Sunday, January 29, 2012

Toraja, Menuju Kuburan Batu

Balik ke beberapa bulan yang lalu, Mr. A dari ADS mengirimkan email kepadaku bahwa keberangkatan ke Brisbane akan diundur dari tanggal 9 ke tanggal 18 Januari. Aq sudah coba lobi beliau, tapi beliau tetep keukeuh tuh dan pada akhirnya aq tetap berangkat di 18 Januari. Kecewa memang, karena itu berarti petualangan di tempat baru akan tertunda selama sebelas hari, tapi agak bersyukur juga, karena artinya aku bisa ikut Natal BMKG lagi (aku ditunjuk jadi ketua seksi dekorasi lagi karena ketua panitia males membentuk kepanitiaan baru, xixixi). Natal berlangsung tanggal 13, jadi aku bisa ikut dalam persiapannya, secara aktif.
Nah, sambil menunggu dalam kebetean yang luar biasa, aku dan Jos akhirnya sepakat untuk mengadakan bulan madu (yang ke berapa ya?) yang ke sekian kalinya, dan kali ini perjalanannya dilakukan untuk menunaikan salah satu wish-ku di Toraja. Very supportive ya, my husband itu, hehehe...
Oh ya, aku coba menuliskan biaya perjalanan juga, khusus untuk Paula yang katanya akan melakukan perjalanan yang sama kelak. Tulisan2 tentang Toraja ini kudedikasikan khusus buatmu Ul, hehehe... Di Makasar kami makan Coto Makasar. Nah, coto bukan soto loh, dan yang namanya coto itu penuh daging kaya begini niihhh...
Sampai di Makasar (tiket pesawat+boarding pass Rp 40.000,-), kami langsung pergi ke terminal Daya. Ada beberapa cara untuk mencapai terminal ini: dengan taxi (Rp 60.000,-), dengan DAMRI (Rp 15.000,-), atau dengan shuttle bus bandara ke plengkongan (gratis), lalu dari situ cari angkot ke terminal (Rp 3.000,-an). Dari terminal Daya kami naik bus Litha (Rp 110.000,-/orang) yang cukup nyaman karena datang tepat waktu dan langsung berangkat meskipun penumpangnya belum penuh. Dan bus ini mau mengantarkan kita sampai hotel tujuan, baek itu di Rantepao, atau di Makale. Aku dan Jos diantarkan langsung ke hotel Indra Toraja (sekitar Rp 250.000,-/ malam) tempat kami menginap.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang luaaarrr biasa indah. Sawah-sawah terhampar luas, dengan latar belakang tebing dan kerbau-kerbau sebagai cameonya. Kayanya kamera ica-icaan kaya punyaku ini ga pantas buat mengabadikan alam yang mempesona itu... kamu pergi sendiri dan lihat langsung, pasti akan terkagum-kagum dengan keindahannya :) Sawah luas membentang dengan kerbau sebagai tokoh utama Ini salah satu foto favoritku, gereja dengan latar belakang tebing dan langit biru. Seperti gambar-gambar yang suka ada di buku panduan sulam kruistik itu loh :p
Di kawasan sekitar Makasar, kita akan menjumpai pemandangan sawah dengan latar belakang rumah panggung tradisional Makasar. Sementara di Toraja, kita akan menjumpai hamparan sawah berlatar belakang rumah berbentuk Tongkonan dan tebing batu. Just beautiful, ga ada kata lain. Jauh lebih indah lagi kalo mata ga dibatasi dengan frame kaya foto ini... Kalo ini pemandangan dari atas, kuambil di perjalanan menuju Loko’ Mata, Batutumongga
Perjalanan bus mulai pukul 1 siang itu berlangsung terus sampai malam harinya. Yang paling membuat menderita adalah kami harus menahan pipis sepanjang perjalanan. Belakangan aku baru tau, kalo sudah kebelet, kita bisa aja coel supir dan dia akan mengusahakan berhenti di pom bensin atau restoran terdekat, hehehe... pukul 9 malam, aku menoleh ke luar dan pemandangan mulai berganti.
Meskipun gelap, aku bisa melihat bahwa di sekitar kami, rumah panggung beratap pelana sudah hilang, digantikan dengan rumah panggung yang mirip dengan rumah adat Batak itu, rumah adat khas Toraja: tongkonan. Wah, kami sudah sampai Makale.
Aku dan Jos turun di Rantepao sesuai dengan titah Amel. Karena sudah malam, kami berjanji akan bertemu Amel besok harinya saja, sekalian pergi ke gereja sama-sama. Oya, mayoritas agama suku Toraja adalah Kristen, sebagian lagi beragama Islam atau menganut kepercayaan Aluk Todolo yang menyembah leluhur. (Aku masih merasa agak aneh dengan kepercayaan menyembah leluhur ini. Hari Rabu yang lalu, saat seorang teman baru dari Vietnam mengaku kalo dia tidak memiliki agama, tapi berdoa kepada nenek moyangnya, aku bengong!) Gereja Toraja di kota Rantepao
Besoknya kami berangkat ke gereja bersama Amel. Gerejanya lumayan jauh, di Rantelemo, hampir sampai ke Makale. Untungnya kebaktiannya berbahasa Indonesia, dengan sedikit-sedikit lelucon pak pendeta yang berbahasa Toraja. Kayanya leluconnya lucu karena semua orang tertawa, tapi karena ga ngerti, aku dan Jos cuma bengong aja... ditambah dengan kostum casual kami, sementara orang2 lain berpakaian rapi khasnya mau ke gereja, jadilah kami makhluk2 aneh dari dunia lain, xixixi...
Pulang dari gereja kami mencari makan untuk Jos. Kalo dikatakan ‘untuk Jos’ di sini, berarti menunya harus berprotein dan lemak tinggi dan harus banyak. Amel membawa kami ke warung yang menjual menu Pa’piong khas Toraja. Warung ini penampilannya parah, tapi menurut Amel dan Jos, rasa makanannya enak, dan warung ini pernah masuk di salah satu acara kuliner televisi swasta. Berarti memang bagus dong ya? Amel, ibu pemilik toko, dan Jos memilih menu untuk dibungkus
Yang unik, seperti pernah diulas Mba Nana juga, Toraja memiliki bumbu-bumbu khusus yang susah ditemukan di tempat lain. Ada lada katokkon, cabe berbentuk paprika yang katanya pedas sekali.
Atau daun berwarna ungu ini, yang menurut Amel menjadi bumbu untuk memasak Pa’piong yang dimakan Jos. Semak ini tumbuh liar di Toraja, tapi tidak di tempat lain Daun miana, tumbuh liar di Lemo
Sekilas cerita di balik perjalanan:
Oh iya, dulu waktu aku lulus tahap pertama ADS dan menunggu hasil wawancara (tahap kedua), aku pernah bermimpi begini: Aku naik pesawat yang mengantarkanku ke Australia. Ketika pesawat mendarat, aku turun dan melihat pemandangan alam yang mirip Indo, dengan penduduk yang mirip2 juga parasnya dengan orang Indo, tapi dengan bahasa yang tidak kumengerti. Aku terus berjalan melihat dunia yang baru bagiku, sampai tiba-tiba aku mendengar suara pemberitahuan kalo saat itu, di bandara, sebuah pesawat ke Australia akan melanjutkan penerbangan. Itu pesawatku!
Loh? Bukannya udah sampai? Padahal aku sudah berjalan jauuuhhh banget. Aku berlari-lari ke bandara tapi pesawatnya sudah hilang. Ternyata pesawat ke Australianya transit di Makasar, gila ga sih? Dan aku dengan bodohnya mengira bahasa Makasar sebagai bahasa Australia, wkwkwkwkk... Bahkan di dalam mimpi pun aku bisa ketinggalan pesawat, hahaha... dan di dalam mimpi aku gagal berangkat ke Oz, gara-gara jalan-jalan di Makasar.
Kalo dipikir sekarang, mimpi itu kayanya manifestasi perasaan cemasku saat itu. Aku takut kalo ga lolos di tahap keduanya.
Kenapa transit di Makasar? Karena setiap pesawat ke arah Timur Indo transit di sana, hahaha... Karena kadung udah jadi mimpi, biar mirip, sekalian aja pergi ke Sulawesi sebelum berangkat, hehe... Waktu kuceritakan ke Jos sebelum kami berangkat ke Toraja, dia sempat melarang pergi (takutnya itu firasat buruk gitu). Tapi mimpi kan cuma bunga tidur ya? Aku memang tertunda berangkat ke Oz dan jalan-jalan di Sulawesi, tapi toh aku sudah sampai Brisbane, xixixi...
Petualangan di Toraja berlanjut di postingan berikutnya... By: Lady Clara

12 comments:

Monda said...

Senang sekali kalau baca cerita perjalananmu Cla.
Ini juga yg dulu buat aku berminat banget mampir ke sini.

Asyik juga ya, mimpi langsung dibuat kenyataan. Tak sabar menunggu kelanjutannya, yg lengkap Cla sekalian itinerary ya , belum pernah ke sini.

Tri Setyo Wijanarko said...

owh jadi kalo naik bus litha dari terminal daya malah lebih mahal ya.. saya kemaren naiknya dari perwakilan bus litha yang ada di jalan urip sumoharjo cuma kena 100.000.. sayangnya saya berangkat yang malem jadi nggak bisa lihat pemandangan seperti yang mbak clara lihat.. ditunggu kelanjutannya mbak

Clara Croft said...

@Bu Monda: Iya Bu, saya buat rinciannya jadi yang mau ke Toraja juga gampang perginya. Sya kemarin dibantu teman jadi lebih jelas.

@Mas Tri Setyo: bener, naik di jalan lebih murah, kalo mau yang non AC lebih murah lagi, sekitar 85ribu Mas naik dari terminal. Kelanjutannya sedang ditulis Mas, saya pergi ke banyak tempat soalnya :D

BabyBeluga said...

Baca ceritamu makes me miss pemandangan sawah. Bagus yah pemandangan di Toraja. Thanks for sharing.

Clara Croft said...

Iya bagus banget pemandangannya, apalagi kalo liat langsung loh :)

Petualangan Veri said...

wAH... JALAN2 Teyussss

Clara Croft said...

Ayoo jalan2 dan bertualang Fer ;)

edratna said...

Clara...jadi pengin lagi ke Toraja, saya ke sana sudah tahun 1995...udah 16 tahun yang lalu.

paul said...

Wah senangnya clar. Moga gw bisa ke Toraja nantinya. ternyata disana emang masih hijau dan nyaman banget, pantesan si Amel maunya pulkam mulu tuh (pis de ^_^V). Hehehee...thanx u postingannya, ini pastinya akan membantu banget untuk gw.

Clara Croft said...

Iya tuh Amel, awalnya juga bingung kog dia lebih pilih pulang, eh, ternyata preman kampung, xixixi, mungkin ga tega ninggalin wilayah kekuasaan (pis y Mel :p) Iya Ul, kalo udah sampe sana juga share ya :D

isnuansa said...

Hmm, naik bis 110.000 itu berapa jam ya Mbak? Yang harus jadi pertimbangan kan waktu yang bakalan dihabiskan selama perjalanan. Soalnya buat saya yg kerja Senin - Jumat harus pinter-pinter nyari hari "kabur" dari kantor, hahahahaha...

Clara Croft said...

Bener Mba Is. Paling pas ambil pesawat yang sampe Jumat sore, trus ambil bus yang malam (jam 8an), yang tar sampe ke Toraja pagi. Jadi sekalian irit ongkos hotel, hahaha... Nah, kalo banyak waktu kaya kami, ambil bus siang (jam 1an) yang sampe di Rantepao atau Makale malam (jam 10an) trus tidur pesan hotel di jalan ;) Pulangnya ambil malam lagi, pesawat jam 8 pagi, pas itu