Aku ga suka film horor Indonesia, lebih karena ceritanya kadang-kadang ga masuk akal, dan kostum serta make up nya terkesan dibuat-buat. Tapi aku suka film thriller, hehe, film seperti “Scream”, atau “Panic Room”, atau “The Ring”, serem-serem bikin penasaran gituu... Pada dasarnya aku ga takut hantu, atau makhluk lain dunia. Tapi soal percaya mereka ada atau ga, hmm.. gimana ya? Kalo ga mengalami sendiri ya mungkin susah. Tapi kalo mengingat-ingat di Indonesia sendiri ada banyak jenis makhluk lain dunia, susah buat ga mengantongi cerita-cerita ‘miring’ tentang mereka-mereka itu. Di tanah Banjar sendiri, tempat aku besar, ada beberapa ‘jenis’ mereka, sebut aja: genderuwo dan kuyang. Belum lagi menyebut makhluk gaib dari daerah lain, sebut aja: wewek gombel, buto ijo, hantu blau (?), kuntilanak, hantu jeruk purut, suster ngesot, pocong, tuyul
Tentang kuyang sendiri, bukan hanya ada di Banjar tapi juga di Bali dan Thailand. Di Bali kuyang lebih terkenal dengan nama leak, dan kalo aku ga salah ingat kuyang ada di Thailand dengan nama Kra-sue.
Kuyang terkenal karena makhluk ini berwujud wanita normal di siang hari, tapi di malam hari ia pergi mencari mangsa janin bayi, jadi biasanya mengincar ibu-ibu hamil. Jadi, si wanita kuyang ini, pada siang hari akan berwujud seperti kamu atau aku, kecuali satu: ada garis melingkari lehernya. Mitosnya, kuyang akan melepas kepalanya di malam hari dan pergi mencari mangsa, terbang dengan ‘hanya’ kepala dan rambut panjang tergerai dan usus terburai-burai, sementara badannya akan dia tinggal di rumah. Hiii...
Aku ga percaya dengan cerita tentang kuyang, sejujurnya, tapi seorang teman mengaku benar-benar pernah bertemu dengan makhluk yang satu ini.
Jadi ceritanya, waktu temanku masih sangat kecil, ibunya sedang hamil adik pertamanya. Malam hari itu dia dan ibunya sendirian di rumah, karena ayahnya dinas di kantor, dan tengah malam temanku dan ibunya terbangun karena ada bayangan putih mengintai dari balik kelambu. Bayangan putih itu berbentuk bulat, seperti kepala orang, dan... berambut. Ketakutan, temanku berteriak. Makhluk itu hilang, suasana kembali hening, tapi anehnya, adik pertamanya meninggal... Malam itu juga, ibu temanku itu keguguran. Dan temanku meyakinkanku bahwa kuyang memang benar ada, dan akan tetap ada sebab kuyang biasanya tidak akan mati sampai ilmunya diturunkan kepada wanita lain, yang tentunya akan menjadi kuyang juga.
Yah, aku tentu tidak percaya karena ibuku selalu mengajarkanku untuk tidak percaya pada hantu. Jadi waktu temanku membawa-bawa gunting kecil/ silet kemana saja dia pergi (untuk menangkal kuyang) saat dia sendiri sedang hamil, aku tidak berkomentar apa-apa. Kupikir kejadian banyaknya wanita keguguran mungkin hanya karena ‘miscarriaged’ aja, tidak ada faktor mistis.
Lalu ada juga cerita miring tentang ‘genderuwo” yang suka menculik anak yang main sampai senja di kampungku. Mereka bilang, anak-anak yang diculik, kepalanya akan diletakkan di bawah jembatan Barito, sebagai tumbal supaya jembatan tetap kuat dan awet, weewww..
Tentunya, aku ga percaya... aku pikir itu pasti akal-akalan orang besar aja supaya anak-anak kecil ga maen sampe senja, gelap-gelap...
Lalu pindah ke Jawa, aku hidup di kota modern yang bernama Jakarta. Kupikir di sini ga ada cerita-cerita mistis seperti di Banjar, tapi toh aku salah juga. Seperti cerita yang dulu pernah kutulis tentang pembangunan gedung kantor kami: ada beberapa tukang yang jatuh dan patah tulang karena mencoba memotong dahan pohon sebelum ‘selamatan’. Kata orang ada yang ‘main-main’ dengan para tukang dan membuat mereka jatuh dan patah tulang. Atau cerita tentang eksavator yang mandeg sendiri padahal powernya ada dan ga da satupun bagian mesin yang rusak, tapi entah kenapa mesin tersebut tetap macet, dan beberapa saat setelah itu kondisinya baik sendiri, tanpa direparasi atau dikutak-atik.
Orang bilang sih itu ada hubungannya dengan dirubuhkannya gedung lama kami yang memang sudah sangat tua dan berumur.
Jadi menurut mereka, si ‘penungggu’ gedung lama terusik, dan ga suka ada yang mengutak-atik ‘wilayah’nya. Saking takutnya, pihak kontraktor sampe memanggil ‘paranormal’ untuk mencoba memindahkan para ‘penunggu’ ke tempat lain... Well, silahkan ‘rolling eyes’ mode deh karena aku pun waktu itu ga begitu percaya.
Si paranormal mencoba ‘membujuk’ si makhluk untuk pindah dari wilayah gedung yang akan dibangun, ke kolam ikan yang ada di tengah-tengah kompleks kantor. Kata si paranormal, makhluk gaib di kantor itu wujudnya wanita cantik berbadan ular. Uhh... Ceritanya kemudian berkembang makin aneh karena ada pegawai yang mengaku melihat yang aneh-aneh, atau satpam yang melihat lift turun sendiri, ga ada orangnya... Hii... Macam-macam cerita deh...
Aku boleh terus ga percaya kalo ceritanya dari orang luar. Tapi suatu hari yang cerita keluarga-ku sendiri, jadi gimana dong?
Waktu itu kejadian Sampit berdarah, kota Sampit yang biasa damai jadi mencekam karena ada konflik sangat panas antar suku Dayak dan satu suku pendatang di Sampit. Pamanku bersama istri dan 2 sepupuku ada di sana, terjebak di antara kerusuhan: pembunuhan dan pembakaran.
Bapak menempuh banyak bahaya untuk menjemput keluarga kami dan membawa mereka ke Banjar. Keadaan sangat kacau, bibiku sangat ketakutan. Pamanku melihat sendiri mayat-mayat bergelimpangan, darah berceceran, dan suara-suara pisau (mandau) berkelebat. Kesaksian dari warga Sampit sendiri, maut menyambar orang-orang dengan sangat cepat, dalam waktu yang sangat singkat, dan mitos berkembang tentang ‘mandau yang terbang’ dengan kekuatan gaib (atau dengan makhluk gaib) yang pada akhirnya menyelesaikan perselisihan dengan tidak berimbang, kemenangan di pihak suku Dayak.
Banyak orang mengaku melihat sendiri mandau berkilat dan menebas, secara gaib memilih korbannya tanpa bertanya sang korban berasal dari suku apa atau anaknya siapa, tapi yang anehnya membidik orang yang tepat, orang dari ‘suku lain’ tersebut.
Beberapa orang percaya kalo ada leluhur-leluhur yang turun gunung dan ikut membantu berperang. Leluhur? Orang yang sudah mati? Arwah? I don’t bite it!
Tapi Bapakku bercerita menurut pengalamannya sendiri, kalo ilmu gaib yang dihebohkan orang-orang itu ‘mungkin’ memang ada. Sepanjang perjalanan dari dan ke Banjar memboyong bibiku dan 2 sepupuku (pamanku tinggal karena turut membantu warga sekitar menjaga keamanan kompleks mereka), Bapak melihat rumah-rumah warga yang terbakar. Kata orang itu rumah warga ‘suku lain’ yang berperang dengan orang Dayak itu.
Fakta anehnya: ada deretan rumah, yang mendempet satu ke yang lainnya (bahkan hampir jadi satu dinding), rumah yang satu terbakar, tapi yang lainnya tidak. Yang sebelahnya lagi terbakar, yang satu lagi tidak, tergantung dari siapa yang tinggal di dalam rumah tersebut.
Logikanya kalau rumah terlalu berdempetan, akan ikut terbakar jika rumah sebelahnya terbakar kan? Tapi ga, rumah yang berpenghunikan orang Dayak tetap aman, tidak terbakar meskipun rumah sebelahnya hancur lebur dimakan api. Sangat aneh...
Dan Bapak berulang kali dicegat oleh orang yang menjaga perbatasan. Bapak takut, pastinya, karena orang-orang itu membawa-bawa senjata tajam, dan berperilaku sangat buruk. Bagaimana kalo mereka mengira Bapak bukan orang Batak, tapi orang ‘suku lain’ itu?? Bagaimana kalo ‘ilmu gaib’ mereka salah mendeteksi Bapak?? Takut, pasti!!
Tapi percaya ga percaya, ‘ilmu mereka’ memang sakti. Bapak ditanyai dan dibaui. Mobil Bapak diendus-endus untuk mendeteksi apakah ada orang ‘suku lain’ di dalam yang berusaha kabur. Bayangkan betapa tegangnya Bapak dan bibiku pada saat itu.
Beberapa orang di mobil lain di belakang Bapak tidak bernasib baik, mereka dibaui dan ditangkap oleh penjaga perbatasan, nasibnya entah bagaimana Bapak tidak pernah tahu.
Hororrr... tapi aku mulai terusik... jangan-jangan sesuatu yang ‘gaib’ itu memang ada. Sesuatu yang ga ada penjelasan ilmiahnya sampai saat ini...
Tapi itu pengalaman Bapak, bukan aku. Aku masih susah percaya sampai aku ikut acara pemuda ke daerah di sekitar Pegunungan Meratus, beberapa tahun sesudah kejadian Sampit...
Saat itu kami pergi ke Loksado...
Loksado itu daerah perkampungan, dekat dengan sungai Amandit yang jernih, di kaki pegunungan Meratus. Kampung itu dihuni oleh orang-orang Dayak, yang cukup modern lah, karena sudah ada tv, dan warung. Sudah ada banyak motor juga di sana.
Malam itu kami menginap di rumah warga. Homestay, karena ga ada hotel. Memang ada vila, tapi sebagai remaja beruang saku pas-pasan, kami hanya bisa menginap di rumah penduduk, lebih murah. Jadi kami tidur di ruang tamu penduduk, beramai-ramai.
Ada banyak anjing di Loksado, karena penduduk sana sayang anjing dan anjing tidak haram bagi mereka (mayoritas penduduk beragama Kristen atau Kaharingan). Satu hal tentang anjing: mereka bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat manusia, kata orang sih...
Pernah dengar anjingmu melolong di tengah malam disusul lolongan anjing lain di kejauhan? Nah, mungkin mereka melihat sesuatu...
Malam sangat dingin, angin bertiup kencang sampai jendela-jendela berderak. Pukul 2 tengah malam aku terbangun, karena aku mendengar anjing-anjing di Loksado melolong aneh. Lolongan dimulai dari kejauhan, dari ujung kampung, cepat disusul lolongan berikut dari anjing lain, anjing lain lagi, anjing lain lagi, makin mendekat ke arah rumah yang kami tinggali. Lolongan terus bersambung sampai giliran anjing di rumah kami melolong menyambung lolongan temannya, terus disambung lolongan anjing tetangga kami, terus anjing di rumah sebelahnya, dan sebelahnya lagi, dan sebelahnya lagi, sampai seluruh anjing di sepanjang jalan kampung pun mengambil gilirannya melolong... Melolong! Melolong seakan-akan melihat sesuatu...
Lolongan yang beruntun itu sahut-menyahut seakan mengiringi sesuatu yang bergerak dari ujung kampung sampai ke ujung lain kampung melewati rumah yang kami tinggali. Yang membuat bulu kudukku berdiri, kecepatan gerak ‘sesuatu’ yang dilolong oleh para anjing itu bukan kecepatan sesuatu yang ‘berjalan’ tapi sesuatu yang ‘terbang’...
Ngeri...
Benda atau makhluk apa yang datang malam hari melintasi rumah kami, terbang dan bukan berjalan... tanpa suara, hanya membawa desir angin... dan tidak cukup jahat sampai anjing-anjing tidak menggonggongnya...
Itu pertama kalinya logikaku tidak punya penjelasan terhadap apa yang terjadi.
Burung?
Angin?
Atau.....
Oke, kalo anjing-anjing menggonggong karena terpengaruh temannya, kenapa anjing lain tidak serempak menggonggong saat anjing yang paling ujung mulai melolong?
Kenapa harus melolong berurutan sampai anjing terdekat melolong? Aneehhhhh...
Paginya aku dan 2 orang temanku yang lain yang juga terbangun terbangun karena lolongan misterius itu bercerita kepada pemilik rumah kami tentang kejadian aneh itu. Si empunya rumah berkata: “Tenang saja, ‘yang lewat’ tadi malam cuma mau melihat-lihat saja, karena dia merasakan ada orang baru di wilayahnya”
Aku dan temanku hanya terdiam. Sejak saat itu aku mulai mencari-cari... mungkin, mungkin saja ada penjelasan yang logis tentang apa yang kualami... tapi yang jelas sekarang aku ga punya satu pun, dan sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apa mungkin, mungkin... memang dunia lain itu berhubungan langsung dengan dunia kita?? Happy Halloween Day yaahhh.. By: Lady Clara Foto: arief.estiawan.com, bayibekas.com, vivaborneo.com


12 comments:
belum pernah denger soal kuyang sebelumnya....
kirain setan yang mangsa bayi itu ya kuntilanak aja...
tapi kuntilanak ga lepas kepala kan Mas... ini hantu asli daerah saya deh kayanya, soalnya temen2 dari Jawa ga ada yang tau :p
..
aku pernah melihat, mencium baunya dan mendengar suaranya..
jdnya percaya deh.. ^^
..
ku pernah nonton film thai tentang kuyang itu..
di jawa juga ada kok, tapi aku lupa namanya.. ^^
..
Iya, film yang versi Thailand itu juga serem, tapi aku ga tau kalo di Jawa juga ada, ga pernah ada yang bilang Ta
Memang terdapat 'dunia lain' di dunia ini. namun itu bukan harus membuat kita paranoid dan menghamba pada mereka. Karena sejatinya, manusialah makhluk tersempurna. Seharusnya mereka yang takut pada manusia, bukan sebaliknya.
Iya bener Mas, kalo saya prinsipnya ga mengusik-usik deh... jalani dunia masing-masing aja :)
hmm serem juga yah hehe..
memang ada hal2 yang gak bisa dijelaskan dengan logika.. termasuk masalah alam gaib itu.. kisah yang terakhir bener2 mencekam seandainya ada disana..
Abis denger itu, waktu itu aku langsung coba tidur sambil komat-kamit doa, ga berani bisik2, ga berani berdiri...
Besok paginya pas terang baru curhat dengan teman, ternyata 2 orang juga denger
gag realistis.. saiia juga cenderung ngejauhin acara2 seperti itu :(
Padahal waktu saya mengalami peristiwa di Loksado itu saya sedang dalam acara rohani loh, heran juga sih kenapa malah yang dialami peristiwa mistis, dan justru bukan pencerahan
Clara, kulewatin ya post ini langsung komentar,
abisnya belum2 udah merinding he..he..
Waduh, cerita yang mana yang bikin merinding itu Bu? Edisi Halloween Bu, sekali ini saja kog serem-seremannya ;)
Post a Comment