Friday, October 28, 2011

Akhir Masa EAP

Eh, terakhir posting tentang Cross Culture, kog tau-tau udah habis aja ya EAP-nya? Hehe.. Hmm, sejak triwulan kedua masa EAP aku mulai hiatus di dunia perbloggeran nih. Sebagai orang yang mengaku-aku real blogger, agak memalukan sih, apalagi pengertian ‘blogger’ versi beberapa orang bisa sangat berbeda, ada yang mengatakan harus ikut perkumpulan blogger, ada yang bilang harus menghasilkan uang dari tiap tamu di blognya, macam-macam (terbawa2 tulisan temen2 yang ngebahas tentang Hari Blogger nih :p). Kalo versiku sendiri sih, yang penting keinginan buat menulisnya ada dan tetep kuat, dan isi blognya bermanfaat, sudah cukup :p

Nah, yang membuatku hiatus ini lebih gara-gara: di 3 bulan terakhir masa EAP itu, atmosfer belajar di tempat kursus makin kenceng. Lebih-lebih lagi karena kami kemudian banyak menjalani tes-tes uji coba yang hasilnya sering membuat kami sadar bahwa kami masih banyak kekurangan. Nah, sejak dapet nilai yang jauh dari permintaan kampus idaman kami itu, kami jadi makin getol latihan sendiri deh, bawa-bawa bahan dari resource centre IALF dan ngetes diri sendiri di rumah. Kadang-kadang kerja kelompok, meskipun belakangan lebih banyak kerja sendiri.

Seperti yang pernah kutulis di posting yang lebih dulu, kami harus mendapatkan nilai IELTS yang bagus di akhir masa EAP ini, kalo ingin memastikan posisi di kampus idaman kami aman. Kebanyakan kampus meminta nilai total IELTS 6,5, dengan band tertentu seperti writing atau speaking atau bahkan semua bandnya tidak kurang dari angka 6. Angka 6,5 ini juga merupakan angka target IALF sendiri sih sebagai penyelenggara EAP, meskipun ada juga kampus yang hanya menuntut skor IELTS 6,0 atau setara dengan TOELF 550. Kampus idamanku contohnya, meminta total band 6,0 dengan tidak ada band yang kurang dari 6,0. Ini berlaku hanya untuk beberapa jurusan master, salah satunya jurusan yang kuambil, tapi untuk jurusan lain seperti bisnis tuntutan IELTSnya standar: 6,5.

IELTSku sendiri sangat memprihatinkan, kebanyakan band 5, dengan hanya 1 band 7. Buatku sendiri cukup repot sih, karena dengan skor itu jelas aku lemah di segala bidang bahasa Inggris. Ya listening, ya reading, apalagi writing. Dan writing ini jadi masalah tersendiri buatku. Dulu waktu kuliah cuma sekali dapet kuliah penelitian, itupun kelompok, kemampuan menulis essayku jelas-jelas meragukan. Lebih parah lagi karena selama skripsi aku tidak mengambil jalur penelitian, tapi jalur perancangan, yang lebih menegaskan lagi kalo kemampuan menulis essayku pasti parah, hahaha… Skripsi kami yang tebal ampun-ampun itu, isinya melulu analisis akses gedung dan gambar-gambar; prinsipnya: makin banyak gambar makin favorit buat dosen ataupun yang empunya skripsi :D

Seorang teman di EAP yang akhirnya tau aku seorang blogger, pernah bertanya: “Eh, Clara itu penulis ya?” Hehe.. setelah mendengar komen yang seperti itu, aku baru bercermin dan sadar kalo tulisan di blogku (sebenarnya) jauh bener dari struktur essay eui. Tidak ada introduksi, tidak ada badan tulisan, tidak ada konklusi, hehehe.. wong blog itu tempatnya curhat kog :p Yah, tapi jadi ngaca deh, kalo ‘hal tulis-menulis’ ini merupakan kelemahan besar yang sebenarnya ga bole aku punya kalo pengen ambil master. Jadinya selama EAP sebisa mungkin aku melatih kemampuan di bagian ini. Dan aku juga lemah dalam listening dan speaking. Untuk listening ternyata lebih mudah dikejar, karena dengan latihan dan tips-tips canggih dari para instruktur kami yang jagoan: David dan David, aku mulai mengalami peningkatan di bagian ini. Yang lebih susah adalah speaking, karena ini juga ada hubungannya dengan sifat asli kita sendiri. Lah wong aku orangnya ga suka ngobrol panjang, apalagi sama orang luar yang ‘menurutku’ belum tentu bener-bener tertarik mendengar apa yang kukatakan. Tapi lagi-lagi, tips-tips dari David dan David (karena kedua instruktur kami bernama sama) sangat menolong. Setidaknya aku jadi punya cara berlatih sendiri: dengan tembok, atau di dalam bus, komat-kamit sendirian sampai dilirik orang-orang se-kopaja, xixixi… Yah, toh sekarang aku ga harus bolak-balik pake kopaja lagi dan mungkin ga akan bertemu mereka lagi, jadi gapapa deh mereka pikir aku sedikit aneh. Ini demi kampus idaman loohhh…

Sayangnya yang ironis justru gara-gara readingku yang nilainya udah 7, aku ga begitu fokus lagi di bagian itu, dan berlatih sekedarnya (dibanding dengan 3 band lain) sampai sebelum tes dan sepertinya aku kena batunya. Soal reading di final test kami menurutku cukup mudah di part 1 dan 2 tapi benar2 susah di part 3. Apesnya, part 3 punya jumlah soal yang paling banyak, dan ada kemungkinan besar kalo aku akan mendapat nilai yang kurang dari skor reading pertamaku. Agak pesimis di bagian ini sih.. Tapi… banyak berdoa deh biar nilai reading IELTSku ini selamat. Asal jangan kurang dari 6 aja (hiks). Bisa batal ke Brisbane :(

Dan… kami akan menantikan hasil kerja keras kami selama 6 bulan sampai tanggal 2 November 2011 nanti, saat nilai kami bisa diakses melalui website IELTS. Terus-terang aku agak tegang. Takut kalo hasilnya jelek dan aku akan menyalahkan diriku sendiri karena tidak belajar keras.

Tapi kalo separah-parahnya skorku kurang dari yang diminta kampus, aku punya sedikit waktu untuk tes ulang dan memperbaiki skorku. Hmm, tujuan sekolahku sudah mantap dan bulet telor, ke tepian sungai Brisbane, ngekos di bagian Timur kota cantik dan hijau itu. Semoga terkabul, Amin :)

Dan saat-saat terakhir di EAP itu pun datang. Setelah tes yang menguras tenaga dan ketahanan mental, dengan 3 paket tes ‘listening-reading-writing’ di pagi harinya, kami pun harus menutup hari Kamis di IALF kami saat itu dengan speaking test. Aku ga tau aku apes atau beruntung, tapi aku mendapat Joel sebagai interviewer-ku, a handsome gentleman (with unpredictable generosity level), yang penuh senyum tapi terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan susah seputar hidup sehat. Huuuffff… Que sera-sera aja lagi deh…

Hari yang berat itu kami tutup dengan makan malam perpisahan bersama David K, karena esok harinya dia tidak bisa bersama kami sebab akan ada rapat instruktur. Makan malam yang berkesan sekali karena David K seperti biasa mengatakan hal-hal yang ngaco dan lucu, yang kadang-kadang memberikan gambaran padaku tentang ‘akan seperti apa aku kalo udah jadi mature person’, wkwkw… aku juga kadang ngerasa aku sering mengucapkan atau melakukan apa yang David K bilang dan apa yang dia lakukan. Tapi bedanya aku pasti akan terus on line di social network, sedang David bahkan tidak suka punya handphone. Itu satu hal yang membuat sedih, karena aku tahu orang yang sangat menarik itu, mungkin tidak akan pernah kutemui lagi.. mungkin… thanks God David A (David yang pertama) punya akses ke facebook dan mudah-mudahan tidak akan hilang kontak dengan kami semua. Tapi untuk David K, aku ga yakin… mungkin setelah kembali ke Sidney dia pun akan lupa dengan kami semua, dan itu membuatku sangat sedih :( Kelas Barbara terakhir, setelah game Family 100

Kelas terakhir dengan Barbara dilakukan dengan game relaksasi sebelum tes: Family 100! Tentu saja kelompok kami menang, dan tentu saja heboh minta ampun karena 6M4 bergabung dengan 6M3 yang terkenal paling (hiper)aktif, xixixi… ga bisa ga ngakak-ngakak kalo ada 6M3 di ruangan.

Kelas kami memberikan syal untuk Barbara, karena beliau suka sekali memakai syal dalam kesehariannya. Aku akan sangat merindukan wanita cantik yang satu ini, karena sifatnya yang blak-blakan dan guyonannya yang lucu, hampir selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Oh ya, aku makin menyukainya tentu saja karena aku mendapatkan kaos saat menang undian di kelasnya, xixixi… kaosnya sih kegedean, pasti nanti akan jadi punya Jos. Tapi mumpung orangnya belum ada, tak pake dulu gapapa lah… Dan puncak acara perpisahan adalah hari Jumat itu, tanggal 21 Oktober 2011, saat kami semua dikumpulkan, baik itu kelas 3M ataupun juga 6M. Beberapa speeches menggugah diberikan oleh teman-teman kami. Yang pertama dari Diaz, seorang alumni ADS yang berbicara sangat fasih dalam bahasa Inggris, weeehh, mungkin IELTSnya 8 atau 8,5 kali yah, dan isi speech-nya sangat inspiratif dan cerdas, dan lucu di saat yang bersamaan. Kombinasi yang layak menjadikan dia favorit di antara para awardee cowo, hahaha… sampe banyak yang melakukan standing applause setelah Diaz selese berbicara, bener-bener deh…

Speech perwakilan dari 6M dibawakan oleh Deden, sangat lucu, dan dari 3M dibawakan Ruby. Ruby menangis saat speech, yang otomatis memancing tangis teman-temanku yang lain juga. Pada dasarnya aku gampang sekali terpancing menangis, tapi saat itu aku berada dalam mode: kantung air mata terkunci. Gara-garanya David dan Simone memberiku tugas mewakili 6M4 mengambil sertifikat bersama 7 teman lain yang mewakili kelas mereka masing-masing. Jadi mata ga bole sembab, xixi… Jujur, rasanya sangat terhormat, karena aku merasa kerjaanku di kelas cuma ngerusuh, huhuhu, tapi boleh dipercaya menjadi wakil. Tentu saja ga bisa berharap jadi murid teladan karena nilaiku sepanjang kursus selalu tidak konstan (fluktuatif g jelas) dan aku juga tidak terlalu aktif jadi ice breaker di kelas. Tapi kenyataan bahwa bang Ian dari kelas kami menjadi yang terbaik di antara seluruh anak 6M tentu saja membuat kami semua bangga.

Nah, kantung air mataku kuncinya baru terlepas saat kami berfoto-foto dengan Barbara dan David lagi di akhir acara. Sedih sekali kalo ingat tidak akan bertemu mereka lagi. Sepanjang pengetahuanku, Barbara juga tidak punya facebook. Tapi aku akan menyuratinya, terutama kalo aku menemukan sesuatu yang unik di Brisbane (yang pastinya akan banyak sekali), barangkali Barbara tertarik dan mau membalas emailku. Yang pasti mereka akan tetap jadi bagian dari kenangan, Barbara dengan ‘Perth’nya, David A dengan ‘ga nyampung’nya, David K dengan ‘teh India’nya, hahaha… semoga aku akan banyak bertemu dengan orang-orang seperti mereka di Oz, di Brisbane, dengan keajaiban hasil tanggal 2 nanti. Wish us luck! By: Lady Clara

13 comments:

Arman said...

seru banget kayaknya ya kelasnya... :)

good luck ya, moga2 ielts nya bagus ya.. :)

Clara Croft said...

Makasih Mas, masih tegang banget nih menunggu hasil tanggal 2 November tar, sampe terbawa-bawa mimpi :D

Erwin said...

Semoga sukses selalu menyertai. :)

Clara Croft said...

terima kasih Mas Erwin :)

Saya memang perlu banyak sekali keberuntungan

DV said...

Wah, Brisbane? Asik tuh.. tapi aku ga terlalu suka karena panas... kabar2 ya kalo udah ke Aussie :)

Clara Croft said...

Berangkat awal Januari Mas, tgl 9 udah harus di sana. Transitnya sih lewat Sidney, soalnya ga ada yang langsung Brisbane. Nanti bole ya maen2 ke rumah Mas DV, temen2ku banyak yang di Sidney juga

monda said...

Persiapannya aja udah berat gini ya, tapi lebih baik begitu kan, jadi nanti bisa lebih siap.

Sharing dong ClAra cara penulisan essaynya. Tulisanku juga amburadul ya.
Semoga tanggal 2 nanti hasilnya memuaskan ya.

Clara Croft said...

Iya Bu, jadi kan di sana bisa fokus ke esai. Nanti saya coba tulis deh, tapi saya juga belum begitu pinter, bu Tuti Nonka yang udah ambil S3 pastinya lebih jago, hehe..

Iya Bu, doakan ya buat tanggal 2 :)

ata said...

..
wah hasilnya besok ya..
semoga sesuai harapan.. ;)
..

Clara Croft said...

Ho oh Ta, kog ya aku ga pengen liat hasilnya ya, pengennya denger pengumuman lulus ga lulus aja (-_-)

threeas said...

clara mau ke aussi ya?? sukses selalu ya...

Clara Croft said...

Iya Mba Trias, makasih ya, wish me luck :)

lembaranpung said...

Mba, Boleh tanya2 tentang EAP, saya juga rencananya akan ambil overseas, cuma Inggris saya masih kurang sekali :(
kalau boleh email ke purwadi.rosyid@gmail.com

Terimakasih.