Thursday, September 8, 2011

Tentang Orang Gila

Sekitar tahun 2007, si Emak (Mamaku) pergi pukul 4 pagi ke kawasan Landasan Ulin (sekitar 15 menit dari Banjarbaru).

Masih subuh memang, tapi itulah si Emak, ga takut pergi sendiri subuh-subuh, karena percaya Banjarbaru itu aman dan bebas penjahat --> sesuatu yang kuragukan setelah kejadian jatuh dari sepeda motor (tulisanku sebelumnya)

Kami di rumah sih percaya saja, tapi waktu itu jadi kaget juga, karena si Emak tiba-tiba telepon dan bilang kalau motornya gembos. Hmm.. jalanan menuju Landasan Ulin itu sepi banget kalo siang, apalagi kalau subuh... dan gembosnya si motor tercinta entah kenapa mesti terjadi di depan rumah sakit jiwa (aku lupa namanya) di sekitar situ...

Trus kenapa?

Permasalahannya... ketika kami akhirnya datang menyamperinya, si Emak sudah tidak sendiri lagi... beliau sudah ber-empat... Ups... Di situ aku baru tahu, kalo beberapa pasien rumah sakit jiwa itu diperbolehkan keluar kalau subuh, dan mungkin dipanggil lagi menjelang pagi... dan Emak mendapat kenalan baru, tidak tanggung-tanggung, 3 orang... aku yakin beliau benar-benar ketakutan saat itu...

Waktu kami datang sih, kami kira orang-orang itu penduduk sekitar, yang membantu si Emak menggiring motor, atau sukur-sukur menambalkan sekalian (^_^) Tapi setelah dilihat baik-baik, 3 orang itu cuma berjalan menguntit saja, tidak berbicara, tidak toleh-toleh... semua memandang si Emak yang susah payah lari menggiring motor menjauh.

Saat kami datang, si Emak terlihat lega, kami berhenti, dan 3 orang itu pun berhenti. Tentu saja mereka tidak berkata apa-apa... Satu orang yang paling depan, berambut panjang putih, tampaknya sudah paling sepuh dan jadi panutan yang lain. Panutan? Iya, soalnya waktu si Bapak melipat tangan ke depan dadanya, yang dua lagi ikut melipat tangan ke dada... Waktu si Bapak hadap kanan, yang lain ikutan hadap kanan... wew...

Coba deskripsikan perasaanku saat itu, gonjang-ganjing... apalagi imej orang gila bagiku selalu imej yang jelek-jelek saja, suka merusak, memukul, cari masalah.. untungnya khusus pertemuan di Landasan Ulin ini, kami bertemu tipe yang berbeda, yang relatif sudah terkontrol...

Yah, mungkin itu juga yang membuat pihak rumah sakit berani melepas mereka saat subuh ya?

Tapi yakin ga sih mereka memang dilepas saat subuh? Jangan-jangan mereka waktu itu kabur?? Hiii... Suatu hari aku mau tanya langsung deh ke pihak rumah sakitnya... (penasaran yang terlambat dot com)

Si Emak dan motornya berakhir dengan happy ending, tapi kisahku masih berlanjut...Foto dipinjam dari www.febbyayupermatasari.blogspot.com

Namanya Boy, sering lihat dia sedang duduk di depan kos kami, sendirian. Pertama kali ketemu sih, cuek aja.. kupikir dia anak muda sekitar kos yang nongkrong bareng temannya, seperti anak-anak kampung lain di sekitar kos kami. Tapi aku kaget waktu itu karena dia tiba-tiba tertawa kencang dan melihat ke arahku... Aku sempat bingung. Apa baju yang kukenakan aneh? Apa rambutku berantakan? Atau yang lebih parah lagi: jangan-jangan aku kenal dengannya dan aku lupa? Tapi setelah kuamati terus-terusan, ternyata Boy tertawa lagi dan tertawa lagi tanpa henti, dan anehnya, tertawanya ga alami, seperti dibuat-buat...

Kadang-kadang dia menegurku: “Neng, Neng... minta seribu dong...” Biasanya aku hanya menoleh sedikit dan lewat begitu aja. Dibegitukan, Boy bakal tertawa-tawa kencang lagi, aneh banget... setelah beberapa kali ditertawakan oleh Boy, aku baru sadar kalau ada yang aneh dengannya, kalau dia sebenarnya sudah gila... Sedih juga, ga orang gila, ga orang sehat, banyak orang di Jakarta bertingkah seperti pengemis (T_T)

Satu orang lagi yang kutemui adalah wanita ini... aku ga tahu namanya, tapi dia punya kasus yang sama seperti Boy, dia juga gila...


Wanita bersarung berambut pendek

Tiap aku bertemu wanita ini, dia pasti meminta uang, kadang seribu, pernah juga lima ribu rupiah, wew.. lebih tinggi kelasnya daripada si Boy (-_-) Si wanita gila itu, selalu memakai sarung dan berkeliaran meminta uang dari orang ke orang... Kabar yang kudengar, dia dulu pernah hampir menikah, tapi lalu diputusin oleh pacarnya. Waktu dia sedang patah hati itu, kabarnya dia pulang ke rumah, naik kendaraan umum, dan mengalami kecelakaan. Dia terpeleset saat turun bus, kepalanya terbentur, dan sejak saat itu, dia kehilangan kesadaran...

Tiap kali dia kumat, aku bisa mendengarnya mengunpat-umpat: "Dasar laki-laki Anj*ng, dasar laki-laki Anj*ng)

Kasian sekali wanita itu... dan kasian juga si Boy.

Ada juga Bapak lain, yang relatif sudah tua, dan sering kulihat tidur di trotoar, dengan sepatunya sebagai bantal... Awalnya kupikir si Bapak itu pengemis, tapi kemudian aku sadar dia juga - sama seperti Boy dan si wanita bersarung - adalah orang gila...

Si Bapak sering mengomel-ngomel di pinggir jalan, dan mengomelnya tidak berhenti sama sekali dan kelihatannya dilakukannya sepanjang dia tidak tidur... suaranya sampai hampir hilang tapi dia terus saja mengoceh tanpa henti...

Ga punya ide, apa yang dulu menimpanya... mungkin penipuan?

Untungnya, seperti yang kuperhatikan, ada orang-orang yang menjaga mereka tetap hidup. Kabar yang kudengar, pemilik warung makan sering memberi Boy sebungkus nasi, dan keluarga si gadis bersarung memandikannya, meskipun katanya sih tidak mau merawatnya di rumah...

Tapi masih beruntung deh, kalau ga, aku ga tahu bisa jadi apa mereka di jalanan... mungkin mati kelaparan...?

Kenapa sih mereka jadi gila? Hmm... aku bukan ahli kejiwaan, jadi ga bisa secara profesional menjelaskan kenapa orang bisa jadi gila, atau sejauh apa seseorang bisa dikategorikan gila dan sebaliknya seberapa jauh kegilaan bisa ditolerir sebagai normal?

Kalo dipikir-pikir, apa orang-orang yang rebutan kursi di DPR sana jauh lebih 'tidak gila' daripada Boy? Setidaknya Boy ga pernah menyengsarakan orang lain loh... (^_^) By: Lady Clara

24 comments:

Arman said...

nah bener tuh kalimat yang terakhir... sekarang emang dunia udah gila kok yaaa... makanya banyak orang gila dimana2... hahaha

Clara Croft said...

Bener Mas, duu waktu di Kalimantan, mungkin seminggu sekali ketemu orang gila di belakang kampus... Sekarang di Jakarta, ketemu bisa tiap hari dan sekaligus dengan tiga-tiganya...

edratna said...

Benar kata Arman....dunia makin gila...
Bahkan orang yang waras malah disangka gila. Mungkin karena situasi makin membuat orang mudah stres.

Clara Croft said...

Ada sih Bu, tukang sapu dekat rumah jua. Karena dandanannya compang-camping, rambut awut2an, awalnya saya kira orang gila. Ternyata ga, masih waras... Tapi kurang tsu juga apa beliau punya tempat tinggal...

Petualangan Veri said...

gambare mantep tenan.....

Clara Croft said...

Yang atas pinjem Ver, ada foto si Boy, tapi lupa taruk dimana, nanti kalo ketemu pas tak masukin sekalian...

alamendah said...

Kasihan orang2 yang terganggu mentalnya ini belum mendapat perhatian yang layak. Pemerintah keknya masih sibuk ngurus yang lain. Lha, saya ngurus diri sendiri aja hampir gila apalagi ngurus orang gila?!

Clara Croft said...

Apalagi tinggal di Jakarta Mas, kehidupan orang kecil berat sekali, ga heran siapa saja bisa jadi gila... :)

ata said...

..
wuih pengalamanmu serem banget..
selain takut sama bencong aku juga takut sama orang gila..hehe..
..

monda said...

kondisi kejiwaan orang siapa yang tau yah..., mudah2an tak akan pernah mengalami goncangan jiwa seperti itu, kasihan sekali

Clara Croft said...

@Atta: kayanya rata-rata cowo takut bencong ya Ta... waktu mengalami itu sih agak lega karena ada Bapak, tapi kalo dipikir2 3 lawan 1 Bapak juga pasti KO deh :p

@bu Monda: iya Bu, pelajar yang pandai juga bisa tiba-tiba jadi orang gila, sedih :(

M. Arief B. said...

Cerita dan berceritanya menarik. Salam kenal . .

Takut juga sih dengan orang gila. Walau sebenarnya kasian juga. Pernah ada orang gila ngamuk-ngamuk. Geger pada nutup pintu rumah. Maklum, mereka bebas.

Tapi lain dengan ungkapan ini ya: "gila, tulisannya bagus banget." :)

Maaf, pabila komentar tidak berkenan.

Salam menulis. Salam ngeblog.uga sih dengan orang gila. Walau sebenarnya kasian juga. Pernah ada orang gila ngamuk-ngamuk. Geger pada nutup pintu rumah. Maklum, mereka bebas.

Tapi lain dengan ungkapan ini ya: "gila, tulisannya bagus banget." :)

Maaf, pabila komentar tidak berkenan.

Salam menulis. Salam ngeblog.

Clara Croft said...

Hai, salam kenal Arief, thanks udah maen ke sini..

Komentarnya lucu sekali, tentunya berkenan di hati

:)

nanaharmanto said...

Kasian ya mereka yang terganggu jiwanya seperti itu, mereka hidup di dunia mereka sendiri, nggak jarang "ditolak" orang-orang sekitarnya.

Yang paling bikin trenyuh, banyak dilakukan razia orang gila, dibawa pakai truk, untuk kemudian diturunkan jauuuuh dari kota.

Makannya sering terjadi, tiba-tiba banyak orang gila berkeliaran di suatu daerah.
Katanya hal ini dilakukan supaya daerah perkotaan bersih dari orang-orang gila dan gelandangan. Kasian banget deh ya, bagaimanapun mereka itu kan tetep manusia, kok seenaknya "dibuang" begitu rupa...

Kasian ya?

Clara Croft said...

Iya Mba, kasian sekali, sering dianggap seperti bukan manusia... anak kecil di depan rumah, sering melempari Boy, dengan kerikil kecil sih, tapi tetap aja itu benar2 perilaku buruk...

Dibuang ke suatu tempat? Wow, baru saya dengar Mba... apa tidak diprotes oleh orang yang lingkungannya menjadi tempat pembuangan? Gila bisa sembuh sih, tapi mungkin perlu biaya dan ga murah, mungkin pemikiran itu yang mendasari :(

rizky said...

Gila itu terbagi dalam 3 katagori:
1.gila harta,
2.gila wanita(klo cewek gila pria),
3.gila jabatan

mampir ya ke blog gw http:oq-harapanku.blogspot.com

Clara Croft said...

Hehe.. kalo gitu banyak banget dong yang masuk kategori itu ya Rizky ;P

krismariana said...

mungkinkah sebaiknya orang yg spt itu mendapat dukungan dari masyarakat? jadi mereka bisa lebih cepat warasnya. memang kasihan. aku sendiri juga sering bingung mesti gimana kalau ketemu orang gila

Clara Croft said...

Ya, minimal kan dirawat dan diberikan makanan ya Mba? Bukan menjadi bahan olok-olokan dan pelecehan.. kasian

Rumah said...

Aritkel Bagus ..

Bagus Penceritaan nya ^_^

Semangat Terus Untuk Berkarya ^_^

Clara Croft said...

Thanks ya Rumah :)

Kontraktor said...

spertinya pemerintah udh g peduli lg sma org gila...mkanya byk yg berkeliaran...

Ceritaeka said...

Hmm aku selalu takut sama orang gila -__-
Walopun kalo denger penyebabnya mereka jd gila ya miris bgt.

Pertebal keimanan aja ya, supaya bisa tabah menghadapi apapun

Clara Croft said...

@Kontraktor: semoga ada solusi yang baik untuk itu ya?

@Eka: iya ya Ka, kalo ga tebel2 iman bisa2 kita juga jadi seperti mereka :(