Salah satu bagian yang menarik dari masa persiapan kami adalah pelatihan yang satu ini: Cross-Cultural Study. Jadi selain dipersiapkan dari segi bahasa dan persiapan menghadapi proses pembelajaran di Australia nanti, kami juga dilengkapi dengan pengenalan terhadap perbedaan budaya yang mungkin sekali akan terjadi kelak ketika kami sampai ke Australia, khususnya dalam hal ini adalah hal-hal umum tentang penduduk Australia, dan lebih khusus lagi terhadap keanekaragaman yang ada di sana.
Kami diberi arahan, bahwa apa yang mungkin di Indonesia merupakan hal yang biasa dan lumrah, mungkin saja di sana merupakan suatu hal yang tidak bisa diterima dengan baik. Ujung-ujungnya memang kita bisa saja menjelaskan bahwa di budaya kita hal itu memang biasa (dan sebagainya sepanjang mungkin kita bisa menjelaskan dengan bahasa kita yang terbatas), tapi kan jauh lebih baik jika kita bisa menghindari hubungan buruk dengan seseorang hanya gara-gara kesalahan sepele yang bertemakan ‘ga tau adat’, gara-gara kurang menaruh perhatian terhadap kebiasaan orang lain..


Bahkan dari cara berjabat tangan pun, bisa saja kita melukai perasaan seseorang (^_^), gambar dari sini
Instruktur pelatihan Lintas Budaya ini adalah Barbara. Wah, beliau orang yang sangat menyenangkan dan lucu dan ‘ngaco’ juga dan cantik juga sih kalo menurutku (^_^). Barbara mengajar kami dengan bahasa Inggris aksen Australia-nya yang cepat banget, dan dengan olokan-olokan yang sarkastik yang “kadang-kadang” membuat kami tertawa simpul tapi “sering” membuat kami tertawa ngakak sampai perut sakit.. hehe.. Barbara: TOP banget deh..
Kelas Barbara biasanya kami dapat sekali dalam seminggu. Kalo kelas David biasa dilakukan di ruang kelas 9 yang hanya cukup untuk 16 orang perusuh seperti kami, maka kelas Barbara biasanya dilakukan di auditorium. Apa yang asik dengan auditorium ini? Tentu saja karena di auditorium Barbara bisa menggabung 2 atau 4 kelas sekaligus dan membuat kami bisa mencari teman rusuh lain. Hehe..
Yup, aku senang dengan kelas gabungan ini karena kami akhirnya bisa mengenal teman-teman lain dari 6M1, 6M2, atau 6M3 (aku masuk 6M4) dan mendapat tambahan info dari teman-teman tersebut. Karena sistem belajar dan bahan yang diberikan masing-masing instruktur berbeda, maka sharing dari teman-teman lain kelas itu jadi masukan yang berharga juga buatku.
Sebenarnya satu hal lagi yang membuatku senang dengan kelas gabungan ini adalah: aku bisa mencari teman senasib sepenanggungan yang kira-kira juga akan mengambil kuliah di kampus yang sama denganku. Tapi sampai sekarang aku belum bertemu seorang pun. Mayoritas teman-teman memilih untuk kuliah di Melbourne, entah itu UniMelb, ataupun Monash. Sebagian besar lain mengambil ANU di Canberra. Mereka ‘nyaris’ menggiringku untuk ikut memilih Melbourne juga sebagai kota tujuan, tapi.. sampai sekarang aku masih jatuh hati dengan Queensland.. (^_^)
Barbara tentunya mencoba menjerumuskan kami semua untuk pergi ke Perth, dan beliau tentunya akan mengatakan bahwa kampus paling TOP di Australia adalah Curtin dan kota paling indah di Australia adalah Perth. Sebabnya? Yak, tepat sekali! ITU KAMPUSNYA BARBARA.. *sigh*
Tapi Barbara juga sudah meracuniku dengan segala macam keindahan yang bisa kulihat di Queensland kelak.. Barbara mengajari kami tentang ‘national emblem’ dari setiap negara bagian dan teritori yang ada di Australia. Queensland sendiri punya ‘koala’ dan ‘brolga’ sebagai hewan khasnya, dan anggrek Cooktown sebagai flora khas. Ahh.. ngerti deh.. pasti masih ada kaitannya dengan tempat penangkaran koala yang sangat luas yang ada di sana itu..


Queensland, dengan koala sebagai salah satu fauna khasnya. Tempat penangkaran koala ini pasti jadi salah satu tempat yang kukunjungi di bulan-bulan pertamaku, jika sudah sampai di sana :p, gambar dari sini
Barbara juga memperkenalkan kepada kami tentang hewan-hewan dan tumbuhan lain yang sebagian malah namanya saja bahkan aku ga pernah dengar. Ada Royal Bluebell (ACT), Kookaburra (New South Wales), Tasmanian Tiger dan Tasmanian Blue Gum (Tasmania), wombat (South Australia), Numbat dan Kangoroo Paw (Western Australia), posum (Victoria) atau platipus dan emu.
Oya, sebelum lupa, tentu saja Barbara memberi tahu kami tentang fakta umum Australia. Australia adalah sebuah negara-benua, dengan 6 negara bagian dan 2 teritori. Mungkin semua juga sudah tau yang ini, tapi buat yang belum tau, negara bagian di Australia a.l: New South Wales, Queensland, South Australia, Tasmania, Victoria dan Western Australia. Dua teritorinya adalah: ACT (Australian Capital Territory dan Northern Territory. Ibukota negara adalah Canberra di ACT, tapi anehnya pusat populasinya justru Sidney dan Melbourne. Populasi total Oz sekitar 22.300.000 orang, dimana sekitar 350.000-nya adalah suku asli yang adalah orang-orang Aborigin. Hei, orang-orang Aborigin ini mirip banget sama orang Papua/ Timor loh.. dan cerita tentang kehidupan suku ini di Australia juga sangat sangat sangat panjang dan luas, suatu hari pengen menulis khusus tentang suku Aborigin (^_^)
Selama ini aku mengira suku Aborigin di Australia hidup layaknya suku-suku pedalaman di Indonesia.. tapi ternyata ga begitu.. ceritanya kebanyakan malah negatif. Dan semuanya baru aku tau gara-gara selama 1 bulan terakhir ini terus membaca artikel tentang Aborigin, menonton film tentang Aborigin, dan yang terakhir gara-gara tugas yang diberikan Barbara, mendengar cerita dari teman yang membaca novel tentang suku Aborigin di Australia.. tentang Aboriginnya nanti dulu, sampai aku dapat sumber-sumber yang memadai dan cerita yang cukup lengkap tentang itu, tapi tentang tugas pertama Barbara kira-kira seperti ini:
Jadi pada minggu pertama kami ikut EAP, kami mendapatkan tugas yang menyenangkan (tapi menyebalkan bagi sebagian orang) ini: tugas membaca novel! Novelnya tentunya dalam bahasa Inggris, dan dalam 3 minggu kami akan diberi instruksi untuk menceritakan kembali tentang novel itu kepada teman lain di kelas. Huhuyy!! Sebenarnya tugas ini menyenangkan, tapi bagi sebagian teman kami yang ‘bahkan’ belum pernah membaca 1 novel bahasa Indonesia sekali pun, tugas itu jadi mimpi buruk, hehe..
Aku memilih 1 buku berjudul Carrie’s Song karya salah satu pengarang Australia bernama: Bronwyn Blake. Ya ya ya, pasti ga pernah dengar novelnya karena memang tidak banyak pengarang Australia yang menghasilkan novel-novel best seller internasional, dan tugas dari Barbara adalah membaca “buku karangan penulis Australia” dan bukan buku karangan Stieg Larrson yang hampir saja kupilih gara-gara aku udah pernah baca dan memang isinya bagus, xixixi.. (hei, kan harus direkomendasikan, jadi harus pilih yang bagus dong)
Yang unik adalah buku lain yang dibaca temanku. (Tentu bukan bukuku karena bukunya ternyata ceritanya seperti pilem sinetron di Indonesia, si Ibu menyelamatkan temannya, si anak menyelamatkan temannya, yang ternyata adalah anak dari teman Ibunya, yang ternyata mereka lahir dari 1 ayah, alias sodaraan, yang ternyata kemudian ibunya jadi artis terkenal dan mencari anaknya yang kemudian juga terkenal gara-gara nemu tikus langka yang dikira sudah punah, bla bla bla..) <-- nyiyir.. Tapi bagus kog via baca bukuku aku jadi tau banyak tentang gambaran padang pasir di Oz, atau biru lautnya Flinders Island.. berpikir positif, ok! :D
Nah, kembali ke bukunya teman-temanku, jauh lebih unik karena kebanyakan buku mereka berdasarkan cerita nyata. Beberapa orang membaca buku yang ditulis seorang ‘creamy’ (setangah Aborigin-setengah Australia) tentang kehidupan masa lalunya yang diperlakukan tidak adil karena statusnya sebagai setengah Aborigin. Bahkan salah seorang teman bercerita tentang bukunya, dimana di masa lalu bahkan orang Aborigin itu diburu untuk dibunuh, uuhhh.. serem ga sih?
Buku dari seorang teman yang lain bercerita tentang kehidupan seorang Australia di Jakarta.. eee.. iya, Jakarta yang adalah tempat aku menulis postingan ini. Jadi ceritanya buku si teman itu berkisar pada zaman pemerintahan Sukarno, kurang lebih pada masa komunis, dan soal politik di Indonesia. Aku ga begitu suka politik sih, tapi gara-gara itu jadi penasaran dengan hubungan politik Indoenesia-Australia dulu dan sekarang.
Teman yang lain lagi menceritakan bukunya dengan meminta maaf sebelumnya pada kami, karena ternyata bukunya kurang lebih bertemakan perlakuan yang berbeda terhadap seorang yang wanita menggunakan jilbab. Benar-benar membuka wawasanku tentang sisi lain dari negeri seberang itu, yang jarang terekspos media. Kalo ga salah judul buku teman itu: Ten things I hate about Me. Besok pasti tak pinjam :p Penasaran..
Nah, mana pelajaran budayanya:Ini.. Barbara mengajarkan kami mulai dari cara bersalaman. Kami diingatkan supaya jangan berlebihan dan menyamakan dengan budaya di Indonesia. Ga perlu pake membungkuk segala kalo bertemu, hehe.. cukup mengangguk kecil dan jangan lupa ‘senyum’ :p Kalo bersalaman, jangan terlalu KENCANG!! Tapi jangan juga terlalu lembut sampai-sampai cuma ujungnya aja yang kena.. (-_-) Ayun 3 kali cukup, tapi jangan kebanyakan, dia bisa kira kita orang aneh.. :D Barbara menambahkan juga: ga usah pake menyentuhkan tangan ke dada setelah salaman.. haduh, ini mah kebiasaan buruk saya *sigh*
Oya, salah seorang teman bertanya: bagaimana jika saya tidak bersalaman dengan ‘non-muhrim’? Barbara bilang supaya cukup menutup tangan di dada dan tersenyum, dan kemudian menjelaskan bahwa kita tidak bersalaman dengan non-muhrim.
Tiga minggu kemudian, aku berkenalan dengan teman yang mengajukan pertanyaan itu, dan kami tidak bersalaman.. *I’d got the point, jadi tidak tersinggung* :pBarbara mengingatkan kami untuk tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang ‘TABU’ bagi kebanyakan orang di Oz, terutama pada pertemuan pertama. Salah satunya adalah tentang umur orang (apalagi jika yang ditanya seorang wanita). Yang lain adalah tentang gaji, status pernikahan, agama/suku, orientasi sosial, cacat tubuh. Bahkan Barbara bilang tidak perlu menanyakan nomor telepon di pertemuan pertama. Maksudnya jelas: untuk apa menanyakan hal itu jika maksudnya hanya untuk jadi teman ngobrol. Apa kalo hal itu tidak dibicarakan lalu percakapan umum sudah habis?
Bahkan seorang dosen pun tidak selalu memberikan nomor HP-nya pada mahasiswanya. Jika ingin membuat janji, tentu bisa dilakukan via email. Kalo ingin ijin atau tidak masuk, tentu bisa dengan bagian administrasi kampus.
Salah seorang cewe anak 6M4 yang berisik bertanya tentang bagaimana kalo kita ingin menanyakan sesuatu pada dosen di malam hari di luar waktu kuliah tentang materi tesis kita yang dibimbing oleh dosen itu? Barbara lalu menyarankan agar si anak yang cerewet itu ‘tidak menelpon’ dosen di luar jam kuliah. Karena dosen juga manusia.. ehhh.. salah.. maksudnya karena dosen tidak jadi dosen di luar jam dosennya, jadi jenis telpon seperti tadi tentu tidak ditanggapi. Si anak cerewet sebaiknya tidak menyimpan pertanyaan sampai malam, atau menunggu saja sampai besok paginya baru bertanya pada dosen. Si anak 6M4 yang cerewet itu pun diam.. Anak cerewet itu adalah aku.. (T_T)
Banyak hal yang Barbara arahkan, seperti cara bertanya, cara berperilaku dalam kelas, cara berperilaku di jalan. Barbara berkomentar tentang cara kami semua berperilaku saat terlambat masuk kelas. Kebanyakan anak masuk dan berkata: Maaf saya terlambat.. tapi sambil tersenyum! Maksudnya: hei, kamu terlambat, kamu mengganggu kuliah, kenapa malah senyam-senyum, apa kamu ga merasa bersalah.. Hmm.. benar juga sih, mesti diingat-ingat!
Yang unik adalah semua hal tentang pesta, undangan makan dan traktir-mentraktir. Ternyata ‘TRAKTIR’ itu adalah budaya Indonesia loh teman-teman.. Sebab di Australia mereka tidak memahami mengapa orang Indonesia selalu harus membayar makanan yang dimakan teman-temannya saat mereka berulang tahun, baru naik pangkat, baru dapat perjalanan dinas, dan so on..
Mungkin kita memahami kalo di sini kita berprinsip: kita mendapat berkat, maka kita membagi berkat dengan orang lain dengan mentraktir mereka makan dan begitu juga sebaliknya. Tapi prinsip itu tidak berlaku di sana. Kalo temanmu ulang tahun dan dia mengajak makan.. yah, kamu sendiri yang bayar makananmu. Malah kalo dia mengajakmu datang ke rumahnya untuk berpesta, ya, kamu harus bawa sendiri makananmu.. kecuali memang dia bilang di rumahnya akan ada makanan, tapi.. biasanya kita menyiapkan makanan kita sendiri-sendiri.
Kapan pun ada pesta atau kapan pun ada ajakan makan, pastikan kita tidak pergi dengan tangan kosong, selalu bawa dompet, karena di sana prinsipnya tidak ada satu orang pun yang jauh lebih kaya dari yang lain sehingga harus membayarkan makanan teman2nya. Bahkan jika ditraktir bosmu pun, jangan langsung mau, lebih baik menolak dan bayar sendiri di awal-awal makan bareng :p
Bahkan mereka punya istilah slang sendiri soal ini: Let’s go Dutch, atau Dutch treat yang artinya makan bayar masing-masing alias be es es, hehe..
Seorang anak 6M4 lain bertanya (yang ini bukan saya) kenapa sih disebut traktiran ala Belanda.. Barbara cuma nyeletuk, heeiii.. YOU TELL ME!!! Xixixi.. secara yang pernah dijajah 350 tahun siapa :D
Banyak sih hal lain yang diajarkan Barbara seperti: jangan datang terlalu cepat ke pesta (Heii.. yang punya rumah masih mandi kaleee..), jangan ngebungkus makanan pulang (halooo.. bukan arisan Batak Bu.. xixixi), jangan pee berjongkok di closet duduk (!), jangan buang tisunya di bak sampah tapi buang di lubang WC (WC-nya sudah didesain untuk tisu), jangan bolak-balik keluar ruangan saat ada dosen mengajar atau ada presentasi, dan sebagainya, dan sebagainya.. Mendengarkan langsung dari Barbara akan jauh lebih lucu, karena beliau kocak sekali dan santai.. jadi kami menikmati setiap kelas bersama Barbara.
Nanti aku posting lagi hal lain tentang masa pelatihan EAP kami ini, sekarang mau bersiap-siap dulu untuk ujian hari Jumat (Course Evaluation Workshop) tahap I, wish me luck yaa.. By: Lady Clara
21 comments:
wah asik ya pembelajarannya ... menarik2... :D
seru juga ya preparation course nya... :)
@Nit not: Kalo Cross Culture emang seru Mas, kalo kelas hariannya ya seperti les biasa :p
@Arman: cara mereka ngatur supaya jadwalnya ga monoton itu asil Mas, jadi ga cepet bosen
ass,
wah sip banget cross culture.
ngga membosankan ya mba.
Yup, bener Nura.. pengajarnya juga asik :)
..
yg kutahu tentang ostrali, 9 dari 10 ular mematikan ada di benua itu..
bahkan katak dan laba2nya mematikan..
*kebanyakan nonton animal planet*
hehehe..
Aku juga dengar Ta, ada laba-laba kecil yang racunnya bisa membunuh orang, dan itu katanya ada di Queensland.. serem juga sih.. nanti cari data deh tentang hewan2 itu buat jadi bahan blog
Si sulung nggak pernah cerita seperti ini....tapi memang dia berasal dari kelas international dan undergraduate....
Satu yang Clara perlu tahu....Brisbane sungguh kota cantik, sayang saya cuma 8 hari disana, itupun padat dengan acara seminar....
mau ke australia kah dirimu say?
wadoooh ikooooddddd :D
@Bu Enny: mungkin beda juga jika bergaulnya dengan komunitas internasional Bu.. kalo yang diajarkan instruktur ini, kalo kita mau bergaul dengan orang asli Australia
Benar cantik Bu? Saya sebenarnya sudah g sabar pengen ke sana :)
@Julie: iya Jul, kalo ga ada aral melintang.. ayo ikuuttt :p
about this treat thing, I once had this experience with my foreigner colleague. We were about to travel with airplane and in Indonesia, we should pay the airport tax,, well, it was just IDR 40K, so definitely no big deal if I payed his. But, it turned that he couldn't understand what I was doing and just gave me this hey-why-did-you-pay-my-tax look along the trip...
funny, because I'm just being polite...
Kok nggak ada foto Barbara? pengen lihat wanita cantik yang kocak itu ... :)
Ohya, aku punya beberapa teman lulusan Curtin University. Dulu pernah punya rencana jalan-jalan ke Ostrali waktu mereka baru sekolah disana, tapi sampe mereka lulus, jalan-jalannya belum kesampaian ... hehehe ...
wah ke aussi ya... aku punya teman juga yg mau ke aussi, dia dapat eap 6 bulan di jakarta...good luck ya buat EAPnya...
Alberth: he must be wondering if Indonesian people really are poor :p
Bu Tuti: ga enak Bu pasang foto tanpa seijin orangnya, tar salah kultur lagi :D tp kalo tar dapet foto dia yang udah publish tak insert deh :)
Bu, nanti jalan-jalan aja ke tempat saya trus nginep.. klo Curtin jauh sih di Barat.. klo pergi ke kota yang di selatan enak, bisa jalan2 ke banyak tempat sekaligus
Mba Trias: Iya Mba, dapet ADS. Temannya siapa namanya? Satu term sama saya pasti kami pernah ketemu. Kalo orang LIPI yang saya tau ada satu di kelas saya, namanya Eko :)
kunjungan balik,,,iya aku orang banjar (tinggalnya di kampung)...
kuliahnya dimana?orng banjar juga kah?kapan berangkat ke Aussie?
persiapannya betul2 matang banget ya, semua hal diceritakan,
supaya di sana nggak ada culutural shock ya..
Herry Ir: kuliahnya tahun depan klo ga ada halangan Ka ai.. mudahan ai lancar.. hadangilah ulun bekunjung balik :)
Bu Monda: iya Bu, bagus banget jadi di sana ga mati gaya.. karena memang ada nilai yang berbeda dan ga mungkin kan klo kita nempel terus dengan teman Indonesia sepanjang tahun :)
Wah congrats ya Clara ;) kamu dpt beasiswa ADS yah?
Semangaaat semoga sukses ujiannya
Iya Ka.. hehe.. doakan cepat berangkat ya :P
Hehe, percaya atau tidak, masih ada orang-orang di sekitar saya yang mengira ibu kota Aussie adalah Melbourne atau Sydney. :D LOL
Asop: sepertinya Canberra terlalu kalem ketimbang teman2nya ya Mas :p
Post a Comment