Di dalam tulisan sebelumnya telah kujelaskan, bahwa kami sempat menginap di Ubud sebelum pergi ke Kintamani kan? Yup, postingan yang ini khusus tentang Ubud. Dan gambar pertama yang jadi primary foto postingan ini, adalah foto penginapan kami saat di Ubud, benar-benar khas Bali. Kalau pernah nonton filmnya BCL yang judulnya Saus Kacang itu, kelihatan juga rumahnya mirip-mirip wisma kami ini..Kebanyakan penginapan di Bali memang melebar ke samping dan tidak ke atas. Penginapan kami di Sanur juga demikian, kamar-kamar yang bersusun dari depan sampai ke belakang, dan hanya berlantai satu.
Yup, yang pernah kupelajari tentang peraturan daerah di Bali sih, kabarnya bangunan di Bali memang diatur dengan ketinggian tertentu, biasanya tidak lebih dari 15 meter, atau tidak lebih tinggi dari pohon kelapa. Peraturan ini berlaku khususnya bagi kawasan di sekitar pantai. Kudengar wilayah di pegunungan tidak terkena peraturan ini tapi tetap saja para pengambil kebijakan tidak serta merta membangun setinggi-tingginya karena mempertimbangkan kekuatan tanah setempat.
Ngomong-ngomong tentang ‘harus lebih tinggi dari pohon kelapa’, aku terpikir: bagaimana kalo setelah membangun gedung, trus di atasnya dikasih aja ‘roof garden’ dan ditanami 1 pohon kelapa aja, jadi kan pasti ga lebih tinggi ya? :D #dilempar orang se-Bali#
Pasar Sukawati, salah satu tempat yang tepat untuk berburu oleh-oleh khas Bali
Pasar Sukawati, salah satu tempat yang tepat untuk berburu oleh-oleh khas BaliSaat berjalan-jalan di sekitar Ubud, kami sempat melewati Pasar Sukawati. Pasar ini juga direkomendasikan oleh Yanti karena terkenal sebagai tempat yang menawarkan oleh-oleh khas Bali dengan harga yang sangat miring. Tapi aku sendiri percaya dimana saja belanjanya harganya ya bisa miring asal pintar memilih dan menawar, hehe.. buktinya harga yang paling memuaskan bagiku justru kudapat waktu berbelanja di Tanah Lot hari sebelumnya..
Sesaji, di depan rumah setiap pagi..
Sesaji, di depan rumah setiap pagi..Satu lagi yang kuperhatikan di Bali, penduduk sana memiliki kebiasaan meletakkan sesaji di depan rumah mereka setiap pagi. Awalnya kupikir hanya pedagang yang melakukan hal itu karena saat di Tanah Lot dan di Kintamani, kulihat di setiap kios para penjual melakukan hal yang sama. Berdoa sedikit, lalu meletakkan sesaji mereka di depan kios. Aku percaya ritual itu dilakukan untuk memohon rejeki..
Sesaji itu segar di pagi hari dan biasanya terinjak-injak di sore hari.. aku sempat berpikir apa tidak apa-apa kalo sesaji terinjak begitu? Tapi setelah kupikir dua kali semakin rusak terinjak sesajinya bukankah semakin laris toko itu hari itu? Ya kan?
Nah, baru setelah berjalan-jalan dengan Jos berkeliling Bali, aku mengamati lagi kalau ternyata tidak hanya kios yang meletakkan sesaji di depan mereka, tapi juga rumah-rumah tinggal.. sangat menarik..
Pasar Ubud, di sini aku dan Jos singgah lama dan berbelanja..
Pasar Ubud, di sini aku dan Jos singgah lama dan berbelanja..Nah, efek lain dari sesaji tadi akan terlihat di sore harinya. Saat aku dan Jos keluar dari Pasar Ubud, hari sudah sangat sore, dan aku melihat seorang petugas kebersihan kota membawa satu buah gerobak sampah besar, yang isinya seluruhnya adalah sisa-sisa sesajen.. (-_-‘)
Yah, pastinya membersihkan sesajen jadi tupoksi khusus dinas kebersihan di Bali ya, melihat begitu banyaknya sesaji yang dikeluarkan masyarakat setiap harinya.. dan tugas membersihkan sesaji harus selesai sore karena keesokan subuh sesaji yang baru akan diletakkan lagi di tempat yang sama, demikian seterusnya, hari demi hari..
Pasar Ubud dengan beraneka ragam barang-barang khas Bali untuk oleh-oleh..
Pasar Ubud dengan beraneka ragam barang-barang khas Bali untuk oleh-oleh..Aku membeli kain bercorak Bali khusus untuk dipakai kembaran bersama Mba Ajeng dan Reza di kantor. Jos sibuk menyapa bule-bule, hahaha, gokil bener anak itu..
Kejadian yang lucu terjadi ketika kemudian di Ubud hujan, dan kami terjebak tidak bisa langsung pulang.. karena bete, Jos kemudian iseng berpura-pura menjadi penjual payung. Dia menawarkan payungnya sendiri pada bule-bule seharga 50ribu, hahaha.. harga asli payungnya sih 15ribu.
Yang bikin kaget ketika kemudian seorang pasangan bule Perancis benar-benar membeli payung Jos, jiaaahhhh.. si bule perempuan cantik sekali, makanya awalnya Jos menawarinya payung.. (Jos hanya menawari bule yang cantik-cantik saja) Awalnya si bule cantik dan pacarnya tidak mau, tapi kemudian karena hujan ternyata lama sekali berhenti mereka berubah pikiran dan menanyakan pada Jos harga payungnya.. Hahaha..
Jos yang ditanya kelimpungan, hehe.. niat isengnya kog ya bener-bener ditanggapin bule.. mungkin tampang Jos sedikit mirip penjual payung, xixixi.. akhirnya si bule cantik dirujuk oleh Jos ke toko terdekat yang menjual payung.. si pacar bule cantik diam saja, semoga tidak marah pada Jos :D
Dan setelah hujan berhenti, kami memutuskan untuk pulang ke Selatan, sambil tidak henti menikmati pemandangan toko-toko karya seni yang berhamburan di sepanjang jalan Ubud, mulai kesenian ukiran, pahat, lukisan, baik itu melukis di kanvas ataupun di atas kulit telur, waww..
Salah satu toko kesenian di sepanjang jalan..
Salah satu toko kesenian di sepanjang jalan..Kami terus berjalan menanjak ‘?’ sampai kami tiba di kawasan yang bernama Tegal Alang. Heh? Padahal kami rencananya mau ke Selatan, mencari penginapan di Sanur supaya bisa melihat matahari terbit esok harinya. Tapi makin ke atas pemandangan yang kami lihat justru hamparan sawah yang bertingkat-tingkat (sepertinya kami masuk kawasan persawahan yang mempergunakan sistem subak itu). Udaranya juga semakin dingin dan tiba-tiba kabut terlihat makin jelas dan jalanan makin sepi..
Mulai curiga, Jos akhirnya bertanya pada penduduk sekitar, kemana jalan menanjak yang akan kami tuju itu? Dan tahulah kami bahwa kami ternyata kembali menuju Kintamani, wedew.. Rupanya mau mengulangi lagu Ebiet G. Ade lagi nih?
Jos akhirnya memutar arah dan mengomel2 atas navigasiku yang buruk, sampai akhirnya kami tiba di Sanur dan menemukan penginapan untuk bermalam.. #Maaf Beb :p#
Pagi harinya, sekitar pukul 4 kami bangun dan berjalan menuju pantai.. sayang langit mendung, dan yang kami peroleh hanya foto matahari mengintip dari balik awan ini.. ahh.. sayang banget ya.. padahal kabarnya matahari terbit di Sanur indah sekali..
Mataharinya malu-malu eiy.. ya sudah deh, mungkin memang harus balik lagi :D
Mataharinya malu-malu eiy.. ya sudah deh, mungkin memang harus balik lagi :DDan dari pantai, kami mempersiapkan diri untuk perjalan kami ke Uluwatu (yang sudah kuposting sebelumnya), dan dengan demikian cerita perjalanan ke Balinya sudah selesai.. jadi bisa posting lagi tentang perjalanan/ kegiatan yang lain lagi..
PS: ternyata beberapa minggu setelah bulan madu kami, aku mendapat perjalanan dinas ke Bali lagi, hahaha.. ternyata memang dikasi kesempatan untuk balik lagi, tapi saat itu ga kemana-mana, karena masih puas. Bahkan kulitku yang berubah warna belum sempat kembali ke warna semula.. masih ada 3 hal yang belum tercapai di pulau indah ini, suatu saat akan kutebus. Bye Bali.. By: Lady Clara
Baca juga:
- Pantai Dreamland dan Garuda Wisnu Kencana
- Kintamani
- Tanah Lot
- Kuta-Legian
9 comments:
gua kalo ke bali selalu belanjanya di sukowati. hahaha.
btw kocak banget sih si jos sampe pura2 jadi penjual payung... :P
wish-list saya waktu break EAP: ke bali!!!
@Mas Arman: Hehehe.. itu juga yang dilakukan Adek saya, dan dia ngeborong, haha.. bilangnya memang pasar Sukawati itu tempatnya turis2 pada beli oleg2, hehe..
@Alberth: mesti beli tiket dari sekarang Beth.. tar mahal loh, dan saran dariku, nginep di Tune juga (promosi) soalnya deket banget dari Kuta dan taxi biasanya pada tau dimana letaknya :D jadi ga bakal nyasar
Dan ada tempat penyewaan motor/mobil juga sekitar situ
yup, nyambi browsing tiket,,
looking for the most feasible one... :D
aku kapan yah bisa ke Bali...
Ubud adalah daerah Asri dan masyarakat sopan santun, kalo saya ke bali paling suka tinggal di ubud
@Alberth: dan jangan pergi cuma sebentar, rugi :p
@Fitri: hehe.. buru tiket promo AA aja Fit :p
@Hidayat: Benar Mas, daerahnya tenang, jadi bikin perasaan juga ikutan tenang, tapi kalo malam dinging juga, brr
Pasar Sukawati memang selalu menarik, asal pintar menarik..tapi pasar kaget di daerah Tanah Lot juga menyenangkan.
Wahh Clara benar-benar muteri Bali ya.....
Iya Bu.. mumpung.. tapi akhirnya bukan bulan madu deh, malahan judulnya diganti: pendidikan backpacker bagi suami :D
Post a Comment