Monday, May 9, 2011

Pantai Dreamland Uluwatu, dan Garuda Wisnu Kencana

Nah, ini tujuan terakhir kami di Bali (cerita tentang Ubud belum selesai ditulis, jadi diposting belakangan saja, hehe..), pergi ke Uluwatu dan juga mengunjungi Garuda Wisnu Kencana. Karena GWK menyajikan acara yang menarik pada malam hari, maka kami memutuskan untuk bersenang-senang di Uluwatu terlebih dahulu.

Jos tentunya langsung nyemplung ke dalam air, malah berencana pake acara surfing segala.. Pantai di kawasan Uluwatu sangat banyak, tapi kali ini kami pergi ke Pantai Dreamland.. Pantai Dreamland sendiri kabarnya merupakan pantai buatan, yang dibuat eksklusif untuk memanjakan para turis di kawasan elite sekitar Pecatu. Terlepas dari itu pantai buatan atau tidak, aku sungguh menikmati pemandangan pantainya yang luar biasa indah, khas pantai-pantai di Bali..

Karena berada di ujung selatan pulau Bali, ombak di pantai ini sangat besar, dan pemandangannya sangat lepas, mengarah ke Samudera Hindia.. wehh.. airnya biru, dengan tebing-tebing karang yang mengelilingi pantai.. karena kami datang di pagi hari, langit juga masih belum berawan dan terlihat tidak kalah birunya dibandingkan air laut.. Pantai Dreamland, Uluwatu, Bali, sangat indah, khas pantai-pantai Bali

Jos sangat menikmati berenang di antara turis-turis lain yang mengunjungi Dreamland.. Jos juga tentu saja menikmati acara sesi foto dan videonya.. (-_-)

Selain berenang, para turis juga banyak yang surfing, atau hanya sekedar berjemur di tepi pantai.. kabarnya lapak di tepian pantai Dreamland disewakan 300ribu per meternya..

Puas bermain air, aku dan Jos pergi mengunjungi Garuda Wisnu Kencana. GWK adalah sebuah taman budaya di kawasan Unggasan Jimbaran Bali yang dibuat sebagai icon wisata Bali. Sangat terkenal karena kerap mempertunjukkan kesenian-kesenian khas Indonesia, khususnya kesenian tradisional Bali. Aku di depan patung Wisnu dan panggung terbuka tempat pertunjukan tari-tarian Bali.

Sebenarnya pengen sekali mencari pertunjukan khas fire walking Bali di GWK, sayang kami pergi di hari yang salah, mestinya Minggu/ Senin, sehingga kami mencoba menikmati pertunjukan yang lain

Kami sampai di GWK sekitar pukul 14.00 WITA, masih sangat siang, dan pertunjukan belum dimulai. Untuk menghabiskan waktu, aku dan Jos mencicipi makanan tradisional di warung yang ada di GWK.. wah, aneka masakan Indonesia ada di sana, ada makanan khas Bandung dan juga makanan khas Surabaya, bermacam-macam, hehe.. dan di pojok bangunan, tersedia restoran all you can eat dan juga kios yang menjual aneka barang seni khas Bali untuk oleh-oleh para pengunjung.. (per orang kena biaya hanya Rp 75.000, 00 dan bisa makan apa saja yang dia inginkan sampai mabok.. :p)

Beberapa jam menunggu sambil mengisi perut, kami pun akhirnya melihat iring-iringan gadis kecil dan pemuda-pemuda berjalan dari arah dalam gedung menuju ke arah Plaza Kura-kura. Ada gadis-gadis cantik dengan baju Bali, pemuda pembawa panji-panji, pemuda pembawa alat musik, pemuda pembawa sesaji, dan juga barong. Ada juga pasangan boneka besar mirip ondel-ondel, yang aku tidak tahu namanya apa. Terpesona melihat kedatangan mereka, aku dan Jos pun menyelesaikan makanan dan minuman lalu bergegas mengikuti iring-iringan tersebut.

Ternyata iring-iringan penari dan pembawa panji-panji pergi menuju panggung outdoor Wisnu. Di sana mereka mulai menari, para pemuda memainkan alat musik, dan barong pun mulai bergerak mengikuti irama.. sangat menarik.. kulihat banyak turis mulai mengambil foto dan rekaman video untuk mengabadikan momen itu.. Aku bersama 2 penari dan barong..

Di akhir pertunjukkan musik, tari dan barong, para pemain dan penari berdiri menghormat, dan kemudian pengunjung pun diijinkan untuk berfoto dengan salah satu atau serombongan mereka.. Tentu saja aku dan Jos langsung menyerobot untuk mendapatkan giliran pertama, hahaha.. aku berfoto dengan barong, dengan penari, pemain musik, sampai ondel-ondel.. Jos tentunya juga tidak mau kalah, tapi dia paling menikmati berfoto dengan para penari tentunya, hahaha.. dasar genit..

Oya, di Plaza Wisnu ini juga kita bisa pergi ke tempat teropong, dan dengan uang Rp 5000, 00 bisa membeli koin yang kemudian digunakan untuk mengaktifkan teropong. Dari teropong itu kita bisa melihat pemandangan Bali dari atas.. pemandangan kota, dan juga bandara Ngurah Rai terlihat dari atas..

Setelah melihat pertunjukan tari dan barong, aku dan Jos pun pergi melihat patung Garuda Wisnu Kencana, yang namanya digunakan sebagai nama tempat wisata kali ini. Patung GWK sangat besar, aku pernah melihatnya dijadikan salah satu objek dalam acara televisi.. Jos bersama salah satu bule yang dia paksa untuk berfoto bersamanya, hehe.. anak ini masih sangat muda dan datang bersama keluarganya ke GWK

Garuda Wisnu Kencana memiliki ceritanya tersendiri.. kabarnya garuda adalah burung yang menjadi tunggangannya Dewa Wisnu.. Wisnu sangat mempercayainya dan karenanya Garuda memiliki tempat yang spesial di antara para dewa..

Di kompleks GWK sebenarnya ada tempat lain yang juga sangat menarik untuk dikunjungi, yaitu kawasan kolam teratai dan kawasan outbond. Tapi karena pada saat itu dua area tadi tengah mengalami perbaikan, maka tidak dibuka untuk umum.

Dari Garuda Wisnu kami pun kemudian langsung menuju ampiteater. Menurut jadwal yang terpampang, kami bisa menyaksikan pertunjukan tari kecak di malam harinya. Aku dan Jos masuk begitu pintu ampi terbuka supaya kami bisa memilih posisi duduk yang strategis.

Malam itu kami menyaksikan pertunjukan tari kecak yang sangat menarik. Kali ini pertunjukan kecaknya dibawakan oleh kelompok anak muda yang ternyata adalah para tuna rungu. Yup, para anak muda yang menarikan tarian kecak ini hampir seluruhnya tidak bisa mendengar. Apa dengan tidak mendengarkan musik mereka bisa menarikan kecak dengan baik?

Ternyata ya.. meskipun tuli, anak-anak ini sangat terlatih untuk bisa menarikan kecak tanpa musik. Bagaimana mereka bisa menari dengan kompak dan sesuai dengan tempo? Ternyata pelatih mereka kemudian berperan ganda di panggung sebagai pemberi kode.. dan anak-anak itu menarikan kecak dengan memperhatikan kode dari pelatih mereka.. dengan begitu mereka bisa menari dengan seragam tanpa kesalahan..

Tapi jika dipikir-pikir, dengan kondisi tuna rungu, menterjemahkan kode menjadi sebuah tarian seragam sekelompok anak masih merupakan sesuatu yang luar biasa bagiku.. salut dengan para tim pelatih anak-anak ini, yang kemudian bisa menjadikan mereka entertainer yang luar biasa.. Para pemuda tuna rungu dengan tarian kecak mereka.. hebat.. dengan keterbatasan mereka, mereka tidak menyerah begitu saja

Aku dan Jos menyelesaikan pertunjukan sampai malam, setelah itu kemudian kembali lagi ke Selatan untuk persiapan pulang..

Akhir ceritaku dan Jos di Bali, Uluwatu dan GWK tidak ada di daftar list-ku, tapi dengan keseluruhan cerita bulan madu kami di Bali, wish-ku yang ke-160 ini, tercapai.. By: Lady Clara

Baca juga:
- Ubud-Sukawati-Sanur
- Kintamani
- Tanah Lot
- Kuta-Legian

13 comments:

monda said...

ini wish ke 160, yang ke 159 udah tercapai ...he.he..

Clara Croft said...

Hehehe.. list ke-159-nya tentang sekolah S3 Bu, kayanya yang itu masih lama banget, sekarang aja semangatnya belum muncul :p

'Ne said...

Cieee yang abis bulan maduuu hihi.. asyik ya :-D
eh itu pantainya bagus ya, apalagi kamu bilang ombaknya besar.. saya tuh cinta pantai apalagi kalo ombaknya besar hehe

edratna said...

Pantai Dreamland sungguh indah...lautnya biru...

Saat ke GWK sayangnya saya terbatas waktu, tak sempat melihat acara tarian...maklum buru-buru ke bandara untuk kembali ke Jakarta.
Senang melihat foto-foto Clara yang ceria disini.

Clara Croft said...

@Ne: kalo gitu Ne mesti ke Bali sering2 karena pantai di sana bagus2 :) hehe

@Bu Enny: saya juga salah hari Bu karena sebenarnya pengen lihat firewalk dancing tapi hari itu sedang tidak dipertunjukkan, yang itu masuk dalam daftar list. Senang sekali Bu soalnya bareng suami, hehe :)

julie said...

enaknya bulan madu ngider2 bali ya
aku pengen banget liat tarian kecak yang asli belom kesampean nih

Clara Croft said...

@Julie: Iya Jul.. tari kecak itu bagus karena dimainkan beramai2 dan kompak.. kalo ga kompak kurang bagus.. nah, anak2 yang tuna rungu ini oke banget, mereka bisa kompak walaupun ga bisa mendengar :)

Ata said...

..
dari dream land ke uluwatu kan deket, biasanya kalo sore juga ada tarian anoman di obong itu hehehe..
..
btw 'lapak' yg disewakan di pantai itu kayak gimana ya'.. :roll:
..

Clara Croft said...

Ataa.. ngolok ya? :I

Aku ga tau istilahnya buat tenda-tenda buat rebahan itu,, cuma lapak :D

Lagian kan itu tempat yang diletakkan buat ditempati dan orang harus sewa.. pengertiannya kurang lebih dengan lapak toh? #ngeles#

Nah, mau liat tari2an di pura Uluwatu itu.. ga tau jalannya Ta.. jadi kami puas aja deh dengan yang ini, dan pas pulang udah sore jadi kami langsung ke GWK, hohoho

Anonymous said...

Bravo. Hebat jalan2nya. Ngomong2 transportnya bagaimana? Nyetir sendiri atau pakai tour. Macet nggak? Agus

Clara Croft said...

Di sana bisa nyewa motor ato mobil Mas, dan bisa buat beberapa hari asal meninggalkan kartu identitas :), ada saya tulis di cerita Kuta dan legian

Mr Hoe said...

GWK Park adalah cermin budaya asli Bali, Indonesia. Jangan sampai taman GWK tidak mendapatkan perhatian yang serius dari Pemerintah. Bisa-bisa anak-cucu kita nanti tidak bisa menikmati...Bahaya...

Clara Croft said...

Benar Pak, dan tidak hanya GWk, sebenarnya banyak tempat-tempat berwawasan budaya di Indonesia, yang mestinya mendapat perhatian lebih dari pemerintah, supaya orang yang berkunjung, khususnya anak-anak bisa mendapat lebih banyak pengetahuan tentang nilai-nilai negeri kita :)