Monday, January 31, 2011

Nostalgia di Rantau Perapat, Sumatera Utara

Waktu itu tanggal 16 Desember 2010, aku dan Jos akhirnya pergi bersama menuju Sumatera Utara, ke kota tempat Jos besar, yaitu Rantau Prapat. Karena acara pertunangan kami akan dilangsungkan pada tangal 18 Desember-nya, maka kami harus sudah ada di sana beberapa hari sebelumnya, untuk bersiap-siap. Memang sangat terburu-buru, tapi saat itu aku harus membereskan banyak urusan kantor juga, dan cuti yang kuambil tidak terlalu banyak, hanya 12 hari sampai ke Tahun Baru.

Ini pengalaman pertamaku ke Kota Rantau Prapat, karena asal orang tuaku sendiri bukan dari kota ini, tapi dari sekitar Siantar, sehingga kalo pulang kampung pun, kami tidak akan mampir sejauh Rantau Prapat, paling juga cuma lewat.

Oya, Rantau Prapat itu BUKAN Perapat loh.. keduanya ada di Sumatra Utara, tapi berjauhan. Kalo Rantau Prapat ditempuh 6 jam dari Medan ke arah Riau, kalo Perapat ada di dekat Danau Toba.. Banyak orang yang salah mengira keduanya itu sama, bahkan teman2ku pun mengira jika datang ke pesta pernikahan kami maka mereka bisa sekalian pergi ke Danau Toba, hehehe.. salah kaprah.. Kota Rantau Prapat, tempat Jos besar.. saat bercerita tentang kotanya, Jos selalu membanggakan kotanya dan selalu membandingkan Rantau Prapat dengan Banjarbaru seakan Banjarbaru (kota tempat aku besar) lebih kuno dan kampungan.. ternyata, keduanya sebelas dua belas aja.. malah Banjarbaru yang pegang angka 12 nya, hehehe..

Berjalan-jalan di Rantau Prapat bisa dilakukan dalam 2 hari saja, kota ini besar karena merupakan kota satelit, muncul karena menjadi tempat perlintasan bagi orang-orang yang bepergian dari Medan menuju Riau atau menuju Padang. Kondisi yang sama dengan Banjarbaru mengingat Banjarbaru muncul sebagai tempat perlintasan orang yang bepergian dari Banjarmasin menuju Kalimantan Timur.

Di Rantau Prapat banyak sekali gereja. Mirip dengan Medan, mayoritas penduduknya adalah orang Batak dan sebagian besar beragama Kristen. Rumah Jos sendiri dikelilingi oleh gereja, ada GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun), GPdI (Gereja Protestan di Indonesia), GBI (Gereja Bethel Indonesia), GKPA (Gereja Kristen Protestan Angkola), HKI (Huria Kristen Indonesia), GPPS (Gereja Pantekosta Pusat Surabaya), sampai Gereja Kemah Daud. Oya, di Rantau Prapat tidak ada becak, juga tidak ada ojek motor, tapi yang banyak di sana adalah becak motor, seperti juga di Medan Becak motor, tarifnya kurang lebih seperti becak dan ojek di kota lain, biasanya ditumpangi 2 orang

Ah, aku sangat suka becak motor, karena membawaku dalam nostalgia masa kecil. Aku masih ingat, dulu waktu pulang kampung bersama Mama Bapak dan Yanti, kami pernah naik becak motor ini, Mama dan Bapak terntunya duduk berdua di tempat penumpang, kalo ga salah ingat Mama memangku Yanti.. dan aku?? Aku ingat sekali aku diletakkan di belakang sopir becak motor itu (membonceng), hehehe.. jadilah kami sekeluarga naik becak motor, pake maksa.. xixixi.. Rantau Prapat di waktu malam, banyak burung tidur di atas kabel-kabel listrik

Satu lagi yang membuatku bernostalgia di Rantau Prapat, yaitu pemandangan malam harinya di pusat kota, dimana burung-burung pipit kecil, tidur berjejer di atas kabel tiang listrik di atas jalan raya yang sudah sepi.. mengingatkanku pada malam-malamku di Kota Sampit di masa aku kecil. Burung jenis yang sama, tidur di kabel-kabel jenis yang sama.. berjejer, penuh, seakan-akan setiap jengkal kabel itu adalah losmen mereka, dan mereka dengan nyaman tidur di sana tanpa terganggung dengan manusia yang lalu lalang di bawahnya.. nah, kalo kelak seluruh jaringan listrik atau telepon sudah melalui jalur bawah tanah, aku akan sedih memikirkan kemana lagi burung-burung kecil itu akan tidur dan beristirahat malam hari.. dan nostalgia semacam ini akan susah kutemukan lagi di masa-masa akan datang dalam waktu yang tidak akan terlalu lama..

Oya, selama di Rantau Prapat aku tinggal di rumah orang tua Jos, dan Jos tinggal di rumah tetua adat marga Lubis di kota itu. Ini bagian dari prosesi adat, karena ceritanya saat itu aku dan Jos menikah dengan cara mangalua (kawin lari), artinya sebelum menikah aku sudah diculik oleh pihak keluarga Jos dan dibawa pulang ke rumah, sebab orangtuaku belum tau atau belum merestui, dan aku akhirnya diwakili oleh salah seorang SIHOTANG di kota itu, yang akan menjadi orangtuaku selama aku dan Jos bertunangan sampai kami akhirnya menikah dan orangtuaku diberitahu untuk acara mangadati..

Note: tentu saja dalam kenyataannya Mama dan Bapak setuju 100%, hanya saja Bapak belum mendapat cuti dan Mama juga masih sibuk mempersiapkan acara pertunangan di Siantar sehingga tidak bisa datang ke Rantau, lagipula kami tidak punya rumah di Rantau sehingga cara yang paling mudah adalah membiarkan aku tinggal di Rantau Prapat sampai acara pernikahan dilangsungkan, untuk menghemat biaya (^o^). Normalnya pertunangan dilakukan di tempat pihak cewe.. Rumah Jos cukup besar, dengan halaman belakang yang sangat luas sehingga bisa memelihara ternah, di sana ada ayam, bebek, dan anjing Jos

Rumah Jos sangat menyenangkan.. lagi-lagi aku bisa bernostalgia dengan masa kecilku.. halaman depannya luas penuh tanaman, mengingatkanku pada halaman rumahku sendiri di Sampit, yang penuh buah-buahan dan bunga.. kamar-kamar rumah Jos banyak sekali, sampai keponakan Jos bingung dengan begitu banyak pintu, xixi.. di halaman belakang yang juga cukup luas, ayah Jos memelihara beraneka ragam ternak, ada ayam-ayam dan bebek-bebek, yang hidup berdampingan dengan anjing Jos, si Mopy..

Tentu saja aku paling akrab dengan si Mopy.. hehehe.. kalo sedang tidak dilihat Ibu Jos, aku pasti mengajak Mopy main kejar-kejaran.. (kalo dilihat Ibu Jos ga enak, nanti Ibu pikir punya menantu tukang main-main saja, xixixi..).

Ayam dan bebek Jos membuat nostalgia tersendiri, karena di masa-masa aku masih di Banjarbaru aku memiliki puluhan ayam dan bebek. Mereka semua bahkan punya nama, tapi aku tidak bisa ingat lagi dengan nama mereka, hanya beberapa yang berkesan. Salah satu ayamku yang kelabu dan cantik bernama Helena, galaknya minta ampun. Salah satu ayam jagoku bernama Garing (garing=sakit, bahasa Banjar) karena selalu terlihat lemas dan ingusan, meskipun sedang dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Kalo bebek-bebekku, aku masih ingat ada yang bernama Mia, Tina, dan 2 lagi aku sudah lupa. Bebek-bebek kami dulu kami letakkan di samping rumah, makannya dedak, badan mereka bau, dan saat itu bebek kami tidak sampai bisa menikah dan punya telor, karena bebek kami sudah kepalang masuk ke penggorengan.. hmm.. Nita jadi orang yang paling sedih karena dia sayang sekali dengan bebek-bebek itu..

Pasar di Rantau Prapat, juga menjual kembang, sepertinya untuk keperluan jiarah

Aku juga pergi ke Pasar setempat bersama Ibu Jos. Inang mau membeli bahan-bahan untuk memasak makanan untuk tamu yang kelak akan berdatangan ke rumah kami setelah dan sebelum pesta. Inang masak sendiri, dibantu dengan siapa saja yang turun ke dapur. Yang lucunya di Rantau Prapat ini, taraf kehidupan sepertinya di atas normal. Meskipun aku lihat masih ada pengamen, tapi tidak ada orang yang mau jadi pembantu rumah tangga.

Aku tanyakan kepada Jos, kenapa Inang tidak menyewa pembantu?? Karena Inang mestinya sudah bisa bersantai di rumah, dan mereka bisa mengupah orang. Tapi menurut Jos tidak ada orang di Rantau Prapat yang bersedia jadi pembantu. Aku ga tau apa itu masalah harga diri?? Atau bisa juga karena mereka akan lebih memilih jadi pembantu di kebun sawit yang gajinya lebih besar ketimbang jadi pembantu rumah tangga, hmm..

Dan Inang membeli naniura di Pajak (pasar), harganya sangat mahal.. naniura itu bumbu khas masakan Batak.. rasanya khas banget, agak pedas-pedas getir, dan tanamannya kabarnya cuma bagus tumbuh di Batak sini. Jadi aja deh semua Bataknese yang perantauan kangen naniura sampe sakau pengen bawa ke rantaunya amsing-masing. Kemarin waktu Inang beli naniura di pajak, beh.. harganya di Rantau ternyata juga minta ampun mahalnya.. masa sampe 240ribu rupiah sekilo.. tapi memang saat itu menjelang Natal dan Tahun Baru, semua harga barang mahal. Kalo beli di dekat desa penghasil Naniura, kata sepupuku Novri harganya masih di sekitar 150ribu, nasib.. nasib..

Dan di pajak Rantau Prapat juga banyak orang yang menjual bunga.. aku ga nanya untuk apa, tapi kupikir itu pasti bunga yang diperuntukkan untuk nyekar ke makam leluhur. Mengingat orang Batak sangat menghormati para pendahulunya, makam di Batak selalu dipelihara dan ditengok, dicabuti rumput2nya dan diberi kembang.. oya, cerita tentang nyekar itu akan kutulis tersendiri, dan untuk cerita tentang Rantau Prapat kusambung lagi di posting yang lain. By: Lady Clara

12 comments:

Arman said...

menarik juga tuh cerita adat kawin lari nya... :D

kawin lari tapi direstui ya... hehe

Clara Croft said...

ya tuh Mas, kawin lari kog bisa telpon2an ama emaknya: "Mama sekarang dimana? Bapak naek pesawat jam brapa? Nanti ke Rantau tanggal berapa?" Xixixixi.. boong banget :p

monda said...

Waktu kecil aku juga suka bingung kalo orang2 cerita, kadang nyebut Prapat kadang Rantau Prapat. Udah lebih besar baru ngerti. Pemandangan burung gereja tidur di kawat listrik itu juga ada di Siantar lho, dulu juga heran kok burung2 itu nggak kesetrum.

edratna said...

Rasanya menyenangkan membaca ceritamu di sini Clara. Pajak alias pasar..istilah khas di Sumatra Utara.

Saya pernah sekali ke Rantau Prapat tahun 90 an, saat meninjau pabrik kelapa sawit....tidurnya di sebuah hotel kecil. Saat itu Rantau Prapat masih sepi sekali, indah, nyaman, dikiri jalan dari Rantau Prapat sampai Tebing Tinggi hutan yang hijau dan kebun Kelapa Sawit.

Clara Croft said...

@ bu Monda: hehe.. sama Bu.. mana saya waktu di Sampit kan masih umur 6 tahunan.. bingung kenapa burungnya tidur di sana? Nanti kesentrum gimana? Kenapa ga di pohon? Tapi sekarang juga saya tetep bingung kenapa mereka suka tidur di kabel.. kalo hujan kan kena basah :D

@Bu Enny: Bener Bu, kiri kanan sawit.. Rantau Prapat sepertinya hidup karena sawit2nya itu.. di sana banyak orang kaya yang penampilannya kaya petani, orang yang berkulit hitam wajahnya tak terawat karena terbakar matahari saat memantau ladang, bisa jadi adalah orang yang paling kaya sekota :)

fahrianul said...

di sampit tinggal dmana dulu??aku gin org sampit jua hehee,tp sekarang dah hijrah ke jogja,n aku jg rencana mau nikah sama cewek rantau prapat hihihiii,jd tambah nih pengetahuan soal raper dikit2 ;)

Clara Croft said...

Fahri: hahahaha.. bagus deh, dapat urang Rantau nih kisahnya.. ulun di Sampit jalan Suprapto, parak pom bensin yang bahari kuburan Cina.. pinandu lah? Pian dimana di Sampit?

fahrianul said...

ooo,tahu ai aku tu,parak rumah om ku...aku dulu tinggal di a.yani,sebelah rumah bupati,dsebelah asuransi jiwasraya hehee...yaam nah,dapat urang rantau jua hihihiii...

Clara Croft said...

Nah, tesama am.. haha.. tetamu urang Batak jua kah? Apa istri cuma berumah di Rantau? Pian punya blog kada? Nyaman ku-link :)

fahrianul said...

iya,sama kayanya kisahnya nah heheee...
lain urang batak tp,inya aslinya jawa,tp dr mbah2nya dah bediam dsana dari lawas,jd dah kelahiran sana heheee...kebetulan aku kada bisi blog,tp kalo fb ada,kalo mau add namanya fahrianul hakim,coba search aja...
btw salam kenal sebelumnya,salam juga sama opung2,uak2,eda2 n mamak sama ayahmu ya hahahaa,maaf kalo salah2 bahasanya,maklum hanyar belajar :P

zie alby said...

Rantauprapat merupakan kota dollar, cinta damai, makmur dan sangat2 bersahabat. . .

Clara Croft said...

Wah, orang Rantau Perapat ya? :)